Kamis, 10 September 2015

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Aqua

♥ Kejutan Pertama ♥


Apa yang Alenia takutkan akhirnya menjadi kenyataan. Di minggu kedua, Deo memulai aksi balas dendamnya. Materi pelajaran yang diajarkan Deo adalah Voli. Deo
menggiring semua muridnya ke lapangan di tengah hari yang cukup terik itu. Jika biasanya para siswi akan melancarkan aksi protes, namun kali ini mereka dengan
senang hati keluar ke tengah lapangan. Tentu saja hal itu membuat para siswa geleng-geleng kepala.



“Dasar cewek, pantang lihat cowok cakep,” cibir Diko saat berada di tengah lapangan. Mereka memperhatikan bagaimana anak-anak cewek begitu tergila-gila dan selalu
ingin menempel pada Deo. Tentu saja Alenia adalah pengecualian. Ia hanya mendengus kesal sambil berjalan menuju barisan.


“Baiklah, hari ini kita akan mempelajari teknik permainan voli. Saya akan mengajari kalian bagaimana cara Servis yang benar,” jelas Deo sambil mengambil sebuah bola di troley yang penuh dengan bola voli dan mempraktekkan caranya. Semua anak
berdecak kagum melihat aksi Deo, kecuali Alenia. Ia memutar bola matanya pertanda jengkel, “Dasar tukang pamer,” cibir Alenia pelan.



“Oh ya, dan saya ingin minta satu orang untuk jadi sukarelawan mengumpulkan bola-bola yang di lemparkan temannya,” tambah Deo sambil tersenyum manis penuh arti ke arah Alenia, membuat gadis itu membelalak kaget, “Alenia.. please..”


What!?! Apa-apaan itu guru, kenapa gue? Pikir Alenia terkejut. Begitu nama Alenia disebut semua anak memandang padanya. “Kenapa saya?” tanya Alenia kesal.
“Ini suatu kehormatan Alenia,kamu membantu teman-teman kamu,” balas Deo dengan tatapan tajam yang mengisyaratkan ia tidak ingin dibantah.


Dengan pasrah tiada daya Alenia mengikuti perintah Deo. Benar-benar manusia kejam, maki Alenia dalam hati. Bisa- bisanya dia memerintahkan Alenia menjadi pengumpul bola di tengah terik matahari seperti ini. Dasar Monster, maki Alenia
lagi. Berkali-kali Alenia memperhatikan Deo begitu senang mengajari murid-murid perempuan sementara ia harus berlari kesana-kemari mengejar bola yang berhamburan di seantero lapangan.


Berkali-kali Alenia berniat melemparkan bola voli ke kepala Deo, namun tentu saja itu hanya keinginannya. Kenyataannya ia harus pasrah dengan nasibnya. “Semangat Alenia!!!” teriak Deo dari seberang lapangan saat mereka tengah beristirahat sementara Alenia masih harus mengumpulkan bolanya.


“Dasar Monster....” gumam Alenia sambil melemparkan tatapan mautnya pada Deo membuat Deo tertawa. Minggu berikutnya tak kalah ganas. Kali ini Deo meminta
Alenia menjadi objek penderita untuk mata pelajaran Atletik. Berkali-kali Alenia diminta berlari bolak-balik dari satu garis ke garis yang lain. Memintanya mengulang lagi untuk memastikan para murid tahu bagaimana start yang harus
digunakan. Alenia benar-benar dongkol setengah mati.


Seandainya mereka tidak berada di sekolah, mungkin Alenia sudah melayangkan jurus cakar mautnya ke wajah Deo yang, ehm.. oke, Alenia mengakui kalau Deo memang tampan, super malah. Tapi tetap saja ketampanan Deo tidak bisa menghapus nilai minus dari sikapnya yang sengaja dibuat menjengkelkan untuk Alenia.

“Lu baik-baik aja kan Len?” tanya Melati sambil menyerahkan sebotol air mineral pada Alenia. “Apa? Lu tanya apa gue baik-baik aja? Halloooo.. Melati, buka mata sipit lu selebar-lebarnya, gue sekarat Mel, sekarat...” balas Alenia dengan gaya drama Quennya membuat Sari dan Nina yang duduk di samping Alenia tersenyum geli.


“Mending gue lompat ke kolam deh daripada di suruh lari bolak-balik kaya tadi. Gak lihat apa, kalo keringat gue dikumpulin, bisa buat nyiram satu hektar sawah kali..”
sambung Alenia dengan suara menggebu-gebu. “Eh, jangan ke kolam deh, mati dong gue. Gue kan gak bisa berenang,” ralat Alenia membuat tawa ketiga sahabatnya seketika meledak.


“Dasar Nenek pikun lu..” ledek Melati sambil melempar handuk yang ia pakai untuk mengelap keringatnya ke wajah Alenia, membuat Alenia terpekik, “Melati... handuk lu bau asem.........” dan dimulailah aksi kejar-kejaran antara Alenia dan Melati hingga membuat anak-anak pada tertawa. Itulah Alenia, ia selalu apa adanya. Tidak pernah berusaha untuk mengubah dirinya menjadi sosok yang lain hanya untuk diterima orang- orang. Dan ia bangga dengan keanehan dan sifatnya yang memang terkadang agak tidak terkendali.


Alunan musik jazz yang ringan terdengar memenuhi ruangan kafe bergaya minimalis itu. Di sudut ruangan tampak Deo tengah menikmati minumannya sambil menunggu kedatangan teman-temannya. Sudah lama ia tidak berkumpul bersama teman-temannya. Sejak sibuk mengejar-ngejar anak SMA bernama Alenia Putri, Deo memang banyak menghabiskan waktunya memikirkan cara untuk membuat Alenia jengkel dan
tertarik padanya. Namun sejauh ini yang lebih mendominasi adalah rasa jengkel Alenia dibandingkan dengan rasa tertariknya. Hal itu tentu saja mengusik Deo. Ia yang dikenal sebagai penakluk hati wanita, masa tidak bisa menaklukkan
gadis ABG super aneh itu? Karena itu Deo mati-matian berusaha untuk membuat gadis itu tertarik padanya. Gila memang, tapi Deo suka.


“Hei... Mr. Busy.. apa kabar?” sapa Delon menepuk pundak Deo begitu tiba di kafe, kedatangan Delon disusul beberapa temannya yang lain.
“Hei, aku baik. Kalian apa kabar?” Deo balik bertanya sambil tersenyum senang melihat kedatangan teman-temannya.
“Great.. udah lama kita gak hang out bareng begini..” balas Delon.
“Sekarang lagi sibuk apa De?” tanya Prilly, wanita yang satu- satunya ikut nongkrong bersama mereka.
“Nothing, just enjoy my life ...”
“Eh, De, perusahaanku dapat proyek baru nih, aku mau kamu yang jadi fotografer buat proyek ini gimana?” pinta Delon membuat Deo berpikir sejenak.


Sebelum menjadi guru magang, Deo memang berprofesi sebagai fotografer freelance. Ia kuliah di bidang Sastra, namun passionnya adalah fotografi. Sejak SMP Deo memang senang dengan fotografi. Bahkan karena kemampuannya yang memang sudah diakui oleh banyak orang, bahkan oleh para fotografer yang sudah punya nama besar, Deo kerap mendapat tawaran untuk menangani berbagai proyek ataupun
event besar. Meski dilahirkan di keluarga bisnis, namun keluarga Deo tidak pernah menentang kecintaannya pada fotografi. Karena mereka juga tahu tidak ada gunanya
berdebat dengan pemberontak seperti Deo.


“Hmm... aku pikir-pikir dulu deh,” balas Deo, setelah mempertimbangkan sejenak. Bukan karena Deo tidak tertarik, apalagi ini adalah proyek sahabatnya, Delon. Namun ada proyek yang lebih besar yang harus ditangani Deo saat ini. Apalagi kalau bukan proyek menaklukkan si keras kepala Alenia.


“Ok, deh. Tapi jangan kelamaan. Aku mau proyek ini kamu yang tangani,” pinta Delon sungguh-sungguh. Deo pun mengangguk setuju. Malam itu mereka habiskan dengan bercerita panjang lebar. Bahkan mengenang masa-masa sekolah dan kenakalan yang pernah mereka lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar