Kamis, 10 September 2015

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Aqua

♥Kejutan ♥


Suasana pagi itu di SMA BAHAGIA terlihat seperti biasa. Hiruk pikuk para siswa yang bercengkerama ataupun bermain basket di lapangan sekolah. Tak terkecuali Alenia yang sibuk menjahili Sari dan Melati, sementara Nina tidak berhenti tertawa melihat kelakuan tiga sahabatnya yang seperti anak SD.


Memang tidak ada habisnya bagi Alenia untuk berbuat yang aneh-aneh di sekolah. Alenia memang terkenal di seantero sekolah sebagai anak yang suka usil dan juga cantik. Hanya saja masih dalam batas kewajaran, jadi para guru bisa memaklumi
sikapnya. Walau tidak terlalu menonjol di akademik, namun Alenia di kenal sebagai anak yang supel dan selalu memberikan ide-ide kreatif untuk berbagai even yang
diadakan sekolah. Jadi tidak heran ia punya banyak teman, baik senior maupun junior di sekolah. Bahkan ia banyak memiliki teman dari sekolah lain.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas tepat. Suasana di kelas Alenia terdengar gaduh. Itu semua dikarenakan Pak Roni, guru olahraga mereka yang seharusnya mengajar belum menampakkan batang hidungnya. Jadilah mereka semua
seperti anak ayam yang dilepas keluar kandang. Ada yang bernyanyi, bergosip, bermain lempar kertas, sampai berdandan heboh layaknya seorang artis seperti yang dilakukan Rere and the Genk.


Rere, ya, anak satu itu memang yang paling menyebalkan di kelas Alenia. Selain gayanya yang genit dan selangit, ia juga paling sering mencari masalah, terutama
dengan Alenia. Berkali-kali Narin terlibat pertengkaran dengannya. Alenia sendiri bingung, kenapa Rere selalu cari gara-gara dengannya.



Padahal Alenia bukan orang yang suka mencari ribut. Ia lebih senang berbuat jail, namun hanya sebatas pada teman-teman dekat dan teman yang bisa ia ajak
bercanda. Di tengah kegaduhan itu tiba-tiba Pak Ray, guru BK muncul. Pak Ray pun memberikan pengumuman yang membuat anak-anak tercengang.


“Karena satu dan lain hal, maka Pak Roni untuk sementara tidak akan mengajar mata pelajaran olahraga lagi. Beliau dipindah tugaskan ke sekolah milik yayasan yang ada di Bandung,”
“Yeah.............” teriak anak-anak seisi kelas dengan gembira membuat Pak Ray bertanya, “Kok kalian pada seneng gitu?”
“Bagus dong pak, akhirnya kita gak usah lihat tampang kecut keriput Pak Roni lagi,” jawab Dino disambut tawa anak-anak.



“Bener tu Pak,” timpal Renata, “Ngomong-ngomong guru penggantinya cakep gak Pak?”
“Heh..kalian ini, lihat saja nanti. Sebentar lagi guru barunya akan datang,” ucap Pak Ray kesal melihat tingkah anak-anak itu sambil berjalan keluar kelas.


Sepeninggal Pak Ray, suasana kembali meriah seperti sebelumnya. Alenia yang kumat usilnya menarik kuncir rambut Melati sehingga Melati harus berlari keliling kelas mengejarnya. Sementara itu di sudut sebelah, tempatnya Rere and the Genk bergosip ria, terdengar selentingan kabar mengenai guru baru itu.


“Guru barunya kece badai deh, gue tadi gak sengaja ketemu pas abis dari kantin,” celetuk Nayla, teman seperjuangan Rere.
“Masa sih??” timpal anak-anak yang lain.
“Entar kalian lihat aja deh, gue gak bo’ong,”

Dan tanpa disadari seseorang masuk ke dalam ruangan. Seketika anak-anak berhamburan menuju kursi masing- masing. Begitu juga Alenia dan Melati yang berlari ketakutan melihat kedatangan guru baru itu. Sampai-sampai kaki Alenia
tersandung meja Rico, teman yang duduk dua bangku di depan Alenia. Kontan seisi kelas tertawa melihat Alenia. Bahkan sang guru baru di depan kelas pun berusaha menahan tawanya.


“Co, meja lu resek,” maki Alenia kesal
“Yeah, situ yang petakilan,” balas Rico.
“Selamat pagi menjelang siang, semuanya. Perkenalkan Saya Deo Ananta, guru olahraga kalian yang baru,” ucap Deo memperkenalkan diri saat kelas mulai tenang. Seisi kelas membelalakkan mata menatap Deo. Tidak menyangka mereka
mendapatkan guru muda yang luar biasa keren, yang membuat anak-anak perempuan terpekik histeris, tapi tidak dengan anak-anak lelaki, mereka merasa kalah saing.


“Pagi Pak Ananta...................”teriak anak-anak perempuan penuh semangat.
“Bener kan gue bilang, gurunya kece badai,” gumam Nayla pada teman-temannya yang dibalas dengan anggukan setuju.
“Cukup panggil saya Pak Deo,” pinta Deo.
“Baik, Pak Deo.......”



Deo tersenyum mendengar sambutan meriah dari para muridnya. Namun ada seseorang di kursi belakang yang terbelalak kaget begitu melihat Deo, dialah Alenia. Topan badai, demi seisi jagat raya, mimpi apa ia sampai harus bertemu lagi dengan korban kekerasan tendangannya, pikir Alenia.


Padahal ia sudah menganggap kejadian kemarin siang adalah mimpi buruk yang sudah ia lupakan. Namun kenyataan berkata lain, cowok yang bermain kucing-kucingan dengannya, berdiri di depan matanya dengan senyum sumringah. Berkali-
kali Alenia mengedipkan matanya seperti orang kelilipan untuk meyakinkan diri bahwa itu hanya mimpi, namun tetap saja sosok yang ada di depannya tidak menghilang.


Untuk menambah keyakinannya, ia bahkan rela mencubit kedua pipinya dengan sekerasnya hingga membuatnya menjerit kesakitan.
“Auch...” jerit Alenia membuat semua mata memandanngnya heran, “beneran.. gak mimpi,” Deo semakin tersenyum lebar melihat ulah Alenia. Perlahan- lahan Alenia memerosotkan tubuhnya semakin rendah di kursinya untuk menghindari tatapan Deo.


Namun tetap saja dengan tubuhnya yang tinggi semampai Deo masih bisa
melihat gadis itu yang terus menunduk ketakutan. “Lu kenapa Len?” tanya Hani yang melihat keanehan tingkah Alenia di sela-sela acara perkenalan mereka dengan guru
barunya. Deo memang sengaja membebaskan pelajaran hari itu untuk lebih mengenal murid-muridnya.


“Saat ini gue rasannya pengen banget di telan bumi, terlempar jauh ke dunia lain, atau ke antariksa sekalian deh,” gumamnya membuat Melati mengernyitkan dahi.
“Ngomong apa sih lu?”
“Ya Allah, apa ini yang namanya karma, kalo gini jadinya kemarin gue gak bakal kabur deh, gue bakal minta maaf aja,” gumam Alenia dalam hati.



Tapi kembali lagi, pikiran Alenia yang lain berbisik di kepalanya, “Kenapa harus minta maaf, bahkan dia lebih kejam, ngatain kamu kuli panggul. Kalau memang
mau perang, ya perang aja kenapa harus takut, memang apa yang bisa dilakukan itu cowok di sekolah,”. Alenia memang terkadang agak aneh. Jalan pkirannya tidak pernah satu arah, selalu bercabang.


Itulah yang terkadang membuat orang- orang di sekelilingnya bertanya-tanya tentang kepribadiannya. Bahkan mamanya sempat menyimpulkan kalau anak semata
wayangnya itu mengidap Autisme. Namun Alenia tetap cuek.



Apa yang salah dengan pikirannya, selama tidak mengusik orang lain. Dan kali ini Alenia tersenyum senang. Ia tidak takut. Ok, pak Deo, anda ingin perang, saya siap, batin Alenia penuh keyakinan. Dan di saat ia berkutat dengan pikirannya, ia tidak menyadari bahwa berkali-kali Deo mengarahkan pandangan padanya. Deo penasaran apa yang akan Alenia lakukan selanjutnya.


Apakah gadis itu akan meminta maaf ataukah ia akan tetap menunjukkan nyalinya yang kuat itu, yang membuat Deo kagum sekaligus penasaran. “Let’s see Alenia, the game will begin....” Deo tersenyum penuh arti menatap Alenia yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar