Jumat, 23 Oktober 2015

Cinta Botol Aqua

Fakta Yang Terungkap



Alunan lagu Bring Me to Life milik Evanescene mengalun kuat di seantero kamar Alenia. Sambil sesekali ia ikut bernyanyi dan bergaya di depan cermin, entah itu dengan syal yang di ikat di kepala, di leher atau bahkan berdandan ala Hipster.




Malam itu Alenia memang tengah asyik membenahi kamarnya yang sudah satu minggu ia biarkan berantakan bak kapal karam. Sesekali ia berteriak mengikuti suara Amy Lee sang vokalis. Saat tengah berbenah tiba-tiba terdengar bunyi ‘Klik’ di kepala Alenia.





“Astaga...” pekik Alenia tiba-tiba, “Kalau dia adiknya Pak Leon, berarti... “. Dengan secepat kilat Alenia berlari menuruni tangga menuju ruang keluarga. Di sana sang mama sedang asyik menikmati tayangan sinetron yang menjadi agenda rutinnya.
“Mama...Mama.....” teriak Alenia menghampiri sang Mama.
“Ehm.. ada apa sih Len, kok teriak-teriak gitu?” tanya Mama yang terkejut mendengar teriakan Alenia.
“Ma....Alenia mau pindah sekolah,” ucap Alenia seketika.
“Apa?” ucap Mama bingung sambil menatap Alenia. Alenia mengangguk pasti.
“Kenapa?”
“Pokoknya Alenia mau pindah Ma,”
“Ah kamu ini,” Mama kembali memfokuskan diri menonton sinetron.
“Mama.....” rengek Alenia yang tidak mendapat respon dari Mamanya.




Alenia tidak dapat memejamkan mata. Ia masih memikirkan kenyataan yang baru saja terungkap. Deo adalah adik dari kepala sekolah. Artinya Deo juga punya wewenang penuh atas segala yang terjadi di sekolah. Jika seperti ini, keadaan tidak seimbang. Ia tidak akan mampu melawan anak dari pemilik sekolah. Bisa-bisa ia dikeluarkan dari sekolah.



Itu sebabnya ia minta dipindahkan. Antisipasi lebih dulu, daripada ia dikeluarkan dengan tidak hormat dari sekolah.
“Tapi, selama ini kan semua baik-baik aja, gak mungkin dong, dia ngeluarin gue dari sekolah,” gumam Alenia membesarkan hatinya.
“Tapi gimana kalo dia ngeluarin gue dari sekolah?!?!?” teriak Alenia selanjutnya sambil bergelung dengan selimut di atas kasurnya hingga tanpa sadar ia jatuh dari kasurnya. “Gubrak...”terdengar bunyi yang cukup keras. Alenia pun hanya bisa meringis sambil berteriak pelan, “Ah............




Pagi itu Alenia datang lebih pagi dari siapapun. Ia harus membersihkan ruang guru sebagai hukuman atas perbuatan isengnya pada Deo. Sambil sesekali bersenandung ria, ia terlihat menikmati hukumannya. Itulah yang membuat hidup Alenia tidak pernah membosankan. Ia tidak pernah memandang segala hal dari sisi negatif. Ia belajar untuk menikmati dan menghargai setiap detik dan setiap hal dalam hidupnya.




Iseng-iseng Alenia melihat-lihat beberapa meja guru. Saat ia tiba di meja Deo, dengan hati-hati Alenia memeriksa apa yang ada di meja gurunya tersebut. Ia menemukan beberapa lembar foto. Alenia pun meneliti satu persatu foto tersebut. Alenia menganga takjub melihat hasil foto itu. Foto- foto itu terlihat biasa namun karena diambil dengan teknik yang sangat profesional, hasilnya menjadi luar biasa. Tiba- tiba ia melihat sebuah foto yang tidak biasa.




“Apa-apaan ini?” gumam Alenia saat ia melihat foto dirinya ada diantara kumpulan foto-foto itu. Alenia memperhatikan foto dirinya. Di foto itu terlihat Alenia tengah tertawa lepas. Ia ingat kejadian itu. Saat itu mereka tengah berbenah untuk persiapan perayaan ulang tahun sekolah. Ia dan ketiga sahabatnya tengah bermain perang- perangan dengan sapu dan berbagai alat kebersihan lainnya.




Mereka sangat gembira, hingga tiba-tiba, Raka, teman sekelasnya terjatuh karena air yang mereka tumpahkan. Raka yang berbadan bak pesumo Jepang pun jatuh seperti buah nangka busuk membuat seisi kelas tertawa melihatnya, tak terkecuali Alenia yang saat itu tidak bisa menghentikan tawanya. Alenia pun menduga Deo pasti memotretnya saat kejadian itu. Alenia mendengar langkah-langkahmendekati ruang guru, iapun segera mengembalikan foto-foto itu pada tempatnya.




Setelah semua tugasnya selesai, ia kembali ke kelasnya. Di jalan menuju kelas, ia berpapasan dengan Deo. Alenia memperhatikan gurunya itu.
“Hei.. ada apa? Masih kesal dengan hukuman kamu?” tanya Deo saat Alenia tak berhenti menatapnya. Alenia menggeleng namun masih terus memandangi wajah Deo. Deo bingung melihat sikap Alenia yang tidak biasanya.
“Al,....” belum sempat Deo memanggilnya, Alenia sudah melengos pergi.
“Dasar cewek ajaib,” gumam Deo sambil tersenyum dan melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru. 




Sementara di dalam kelas Alenia masih memikirkan perihal fotonya yang ada pada Deo. Jangan-jangan apa yang dikatakan sahabat-sahabatnya itu benar, bahwa Deo menyukai dirinya. Kalau dipikir-pikir memang aneh juga. Diantara ratusan orang siswi SMA BAHAGIA, kenapa hanya Alenia yang selalu menjadi korban kejahilan Deo terlepas dari insiden botol aqua itu. Apa mungkin itu memang cara Deo untuk mendekati dirinya?




Dan satu hal yang masih mengganjal dipikiran Alenia adalah bagaimana cara Deo bisa sampai ke sekolah ini? Deo adik pak Leon, oke, benar. Tapi bagaimana mungkin Deo bisa masuk secara kebetulan ke sekolah ini tepat sehari setelah insiden botol aqua itu.




Bukan suatu kebetulan kan Deo tahu bahwa Alenia adalah murid SMA BAHAGIA? Jika tidak, bagaimana mungkin mereka bisa bertemu kembali. Seolah Deo telah merencanakan semuanya. Lalu darimana Deo tahu Alenia bersekolah di SMA ini? Pikirnya. Alenia benar-benar belum menyadari ada sesuatu yang hilang darinya.
“Apa benar dia suka sama gue?” gumam Alenia pelan,
“Ah...gak mungkin...gak mungkin...” ia menggelengkan kepala berusaha menyangkal ucapannya.
“Hoi... pagi-pagi udah geleng-geleng, kesambet lu?” Melati yang baru tiba mengagetkan Alenia.



“Mel, gue mau tanya nih,”
“Apaan?” balas Melati curiga, “Lu mau nyalin pr gue kan?” tebak Melati lagi.
“Enggak lah, dodol garut, gue mah ogah nyontek pr lu, yang ada salah semua,” balas Alenia sewot. “Gue mau nanya serius nih,”
“Apaan sih Len, serius amat. Lu kebelet kawin?” Alenia menjitak kepala Melati gemas.
“Sakit, monyong...” maki Melati sambil memegangi kepalanya.
“Elu sih,” balas Alenia dengan tidak sabar, “Menurut lu, beneran gak sih kalo Pak Deo suka sama gue?”
“Cie...udah mulai luluh nih, Lu suka ya sama Pak Deo?” tanya Melati dengan suara menggelegar membuat seisi kelas yang mulai ramai menoleh ke arah Alenia dan Melati.



“Suara lu jangan kekencengan.. goblok..”desis Alenia sambil menutup mulut Melati dengan tangannya. Melati menyipitkan matanya menatap curiga pada Alenia membuat Alenia salah tingkah.
“Aduh, nih anak, gue kan cuma nanya, ya gak mungkinlah gue suka Pak Deo, secara gue sama dia itu musuh bebuyutan,” jelas Alenia panjang lebar namun Melati hanya mengulum senyum.
“Ah.. terserah lu deh...” teriak Alenia frustrasi dan beranjak pergi meninggalkan Melati yang tersenyum geli melihat ulahnya.
“Ops... kayanya ada yang mulai jatuh cinta nih,” gumam Melati sambil tersenyum penuh arti.




Rupanya sejak tadi, Rere mendengarkan pembicaraan dua sahabat itu. Ia terlihat geram begitu menyadari bahwa Alenia kelihatannya mulai tertarik pada Deo. Bukannya Rere tidak tahu, bahwa Deo memang punya perasaan yang lebih daripada seorang guru terhadap muridnya.




Namun tetap saja hal itu membuat Rere marah. Ia tidak rela jika cewek aneh dan
serampangan seperti Alenia menjadi pacar Deo, guru mereka yang super kece dan populer. Alenia memang selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang di sekelilingnya. Itulah yang membuat Rere bertambah tidak suka padanya. Apa yang Rere inginkan, selalu Alenia dapatkan.





Alenia memang tidak pintar dalam hal akademik, tapi gadis itu selalu mampu membuat orang-orang menyukainya, termasuk Deo.
“Gue gak rela kalo sampe tuh cewek aneh jadi pacarnya Pak Deo,” desis Rere menahan rasa kesalnya.
Alenia sendiri kelihatannya tidak mau terlalu memusingkan hal itu. Buktinya ia sudah bisa melupakan perihal urusan cinta itu. Ia memang orang yang seperti itu, tidak mau memikirkan hal-hal yang hanya membuatnya sakit kepala. Jadi ia memutuskan, jika Deo memang menyukainya, ya biarkan saja.





Toh tidak ada undang-undang yang melarang seseorang menyukai orang lain. Dan saat ini ia tengah menikmati sarapan paginya di kantin sekolah ditemani banyolan-banyolan teman-temannya yang tidak ada habisnya. Mereka menikmati sarapan sambil tertawa lepas mendengar cerita- cerita aneh bin ajaib masing-masing anak. Hingga terdengar bel berbunyi, membuat anak-anak itu lari berhamburan meninggalkan kantin.
“Hei..........ini makanannya siapa yang bayar?” teriak Bu kantin memanggil anak-anak nakal itu.
“Dino.......................” teriak mereka serempak, karena memang kura-kura satu itu yang masih terlihat menikmati makanannya. Mendengar namanya disebut, sontak Dino mengalihkan pandangan menatap Ibu kantin.
“Apa ?!?” pekik Dino bingung, “ Wah... sialan tuh anak-anak..” maki Dino sambil mengeluarkan dompetnya untuk membayar. Ibu kantin hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anak itu. walau terkenal nakal, tapi anak-anak itu sangat setia kawan.





Buktinya, bagaimanapun ulah iseng teman-temannya, yang namanya disebutkan untuk membayar tetap saja rela mengeluarkan uangnya untuk membayari semua makanan teman-temannya.

Cinta Botol Aqua

♥ Perang Dunia Ke-5 ♥


Alenia memperhatikan kue-kue yang terlihat lezat di lemari kaca toko yang mereka kunjungi. Ia bingung akan mengambil yang mana. Sementara ketiga temannya telah duduk dengan cemilan masing-masing.
“Len, cepetan dong, lama amat mikirnya?” tanya Nina dari tempat duduk yang mereka pilih di sudut ruangan.
“Bentar dong, bingung nih. Abis, kelihatannya enak semua,” balas Alenia sambil meletakkan beberapa potong kue ke dalam nampan yang ia pegang.



“Pantas tenaga kamu seperti kuli, makannya sebanyak itu,” celetuk sebuah suara yang tak asing di telinga Alenia. Tanpa Alenia sadari sejak tadi Deo sudah berdiri di belakang Alenia. Dan saat ini posisi mereka benar-benar membuat Alenia canggung setengah mati. Deo memang berdiri di belakangnya namun posisi pipi kiri Deo  tepat bersisian dengan pipi kanan



Alenia hingga membuat gadis itu kikuk. Alenia pun menarik tubuhnya menjauh dan menghadap Deo dengan tatapan galak.
“Biarin makan saya banyak, yang pasti saya gak minta dibayarin kan?” balas Alenia sewot, “Lagian ngapain di sini?”
“Ini tempat umum Alenia,”



Saat mereka tengah berdebat, Sari muncul untuk melihat apa yang menghalangi Alenia sehingga ia begitu lama.
“Len, lama bang...” Sari bersiap meyemprotnya namun saat melihat Deo, sikapnya berubah. “Eh Pak Deo,” sapa Sari manja, Alenia Cuma menggeleng sebal melihat tingkah sahabatnya yang biasanya sradak sruduk seperti dirinya, tiba- tiba berubah menjadi cewek manis di depan Deo.



Memang benar-benar, pikir Alenia, cowok bisa bikin karakter cewek jungkir balik. Dari yang serampangan seperti preman pasar, menjadi semanis princess Disney. Alenia rasanya mau muntah setiap kali melihat ada cewek yang menutupi dirinya yang
sebenarnya hanya agar dipandang baik. Klise! Ia tidak akan mau menjadi cewek boneka seperti itu. Dan kali ini ingin rasanya ia menyeret Sari terus mencemplungkan gadis itu ke got karena bertingkah seperti itu.



“Halo, Sari. Kalian pada ngumpul?” tanya Deo ramah.
“Iya Pak. Bapak mau ikut gabung?” tawar Sari membuat Alenia mendelik sewot padanya namun tidak dipedulikan Sari. Apa-apaan tuh cewek sableng? Maki Alenia lagi dalam hati.
“Boleh,” Deo menerima tanpa ragu, dan Alenia pasrah moodnya harus rusak gara-gara Deo Untuk mata pelajaran olahraga kali ini Deo tidak membawa murid-muridnya keluar kelas. Ia akan memberi pelajaran materi tulisan.


Anak-anak perempuan melakukan protes kecil, karena mereka tidak bisa berdekatan dengan guru keren itu. Namun Alenia sangat bersyukur karena itu berarti ia akan
terbebas dari kezaliman Deo.
“Alhamdulillah.. bagus deh,” ucap Alenia sambil menengadahkan tangannya ke atas seperti orang berdoa. Deo yang melirik ke arah Alenia merasa geli dengan sikapnya itu.



“Jangan kira kamu akan lepas semudah itu dari saya,” ucap Deo merencanakan ide di kepalanya untuk membuat gadis itu kesal. Sehari saja ia tidak melihat wajah dongkol Alenia atau wajah cemberutnya karena ulah Deo, membuat dunia Deo serasa tidak hidup.



“ Alenia...” panggil Deo saat gadis itu tengah menulis tugas yang diberikan Deo.
“Hah? Saya?” Alenia meletakkan telunjuk di depan hidungnya sebagai isyarat. Dari kursinya Deo mengangguk sambil melambaikan tangan memanggil Alenia. Mau tidak mau Alenia berjalan menghadap Deo.
“Ada apa?” tanya Alenia ketus.
“Tolong ambilkan teh saya, bisa?”
“Hah? Tapi itu kan tugasnya Pak Dimas?” protes Alenia.
“Tapi Pak Dimas belum datang Alenia, jadi saya minta tolong kamu yang ambilkan, cepat,” perintah Deo sambil mendorong punggung Alenia menuju pintu kelas.




“Eh..eh..e.....”protes Alenia lagi namun Deo mengibaskan tangannya memerintahkan Alenia pergi. Dengan kesal Alenia pun berjalan menuju dapur sekolah. Saat ia tiba, kebetulan pak Dimas baru akan mengantarkan teh untuk para guru.
“Mau kemana neng Alenia?” tanya paka Dimas.
“Eh itu Pak, mau ambil teh untuk Pak Deo,”
“Lah, ini baru mau Bapak antar,” pak Dimas menunjukkan sebaki teh yang akan ia antarkan. Terbersit ide jahil di kepala Alenia untuk membalas Deo.



“Eh, Pak, teh buat Pak Deo, biar Alenia yang bawa, ok!” pinta Alenia sambil mengambil segelas teh dari baki yang dibawa pak Dimas.
“Oh ya sudah, Bapak jalan dulu ya,”pamit pak Dimas.
“Ok Pak!” balas Alenia.
Begitu pak Dimas menghilang dari pandangan, Alenia masuk ke dapur dan dengan semena-mena ia menambahkan tiga sendok makan garam ke dalam teh Deo.
“Pak Deo, ini teh buat kamu, teh Asiiinnn... rasa air laut...hehe..”



Setelah melaksanakan misinya, Alenia kembali ke kelas. Sebelumnya ia memasang wajah malaikat polosnya alias muka datarnya untuk mengelabui Deo. Jangan sampai Deo curiga Alenia berniat membalasnya.


“Ini tehnya..” Alenia meletakkan teh di meja Deo.
“Terima kasih Alenia..” ucap Deo sambil tersenyum sangat manis membuat cewek-cewek satu kelas terpekik histeris.
“Mampus.. dia pake acara senyuman maut lagi..” maki Alenia dalam hati kemudian cepat-cepat berlalu dari hadapan Deo.



Sambil memeriksa beberapa tugas muridnya, Deo bersiap menikmati teh yang dibawakan Alenia. Sementara Alenia kembali mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda tadi. Perlahan Deo mendekatkan gelas teh ke bibirnya dan mulai meminum tehnya. Seketika ekspresi wajah Deo berubah.



Seluruh tubuhnya mengejang kaku, ia berusaha menahan teh yang ada di dalam mulutnya agar tidak tertelan. Semua murid memperhatikan ekspresi wajah Deo, tak terkecuali Alenia yang memandang Deo dengan wajah polosnya. Deo melotot ke arah
Alenia dan dengan susah payah.. akhirnya teh itu meluncur lepas ke kerongkongannya. Wajah Deo berubah tidak karuan menahan rasa asin yang luar biasa di mulutnya. Mau tidak mau, melihat ekspresi Deo yang lucu tawa Alenia hampir lepas.




“Alenia....” panggil Deo dengan suara tertahan.
“Ya ..Pak, “ balas Alenia berusaha menyembunyikan tawanya.
“Apa yang kamu masukin ke teh saya?” Deo berusaha menahan ledakan suaranya.
“Gula Pak,”
“Gula? Kenapa rasa tehnya aneh ya?”
“Masa sih Pak?” kedua guru dan murid itu masih memainkan sandiwara sebelum perang di mulai membuat murid-murid lainnya bingung.



“Kalau memang kamu masukin gula coba deh kamu rasakan tehnya,” perintah Deo.
“Gak usah Pak, itu kan bekas Bapak minum, saya gak mau ketularan gilanya Bapak,” balas Alenia setengah bercanda membuat seisi kelas tertawa. Deo benar-benar dihabisi dalam permainan ini. Ia tidak tahan lagi dan berjalan menuju meja Alenia sambil membawa tehnya.




“Ini, kamu rasakan tehnya..” perintah Deo sambil memaksa Alenia meminum tehnya.
“Gak mau...” Alenia memberontak namun Deo menahan tubuh Alenia dengan merangkulnya dan dengan paksa meminumkan teh itu ke mulut Alenia.
“Minum...” ucap Deo gemas namun Alenia tetap menolak dengan tetap menutup mulutnya menghindari paksaan Deo.



Terjadi pergulatan di kelas membuat seisi kelas bersorak. Deo dan Alenia laksana dua pegulat yang saling menjatuhkan lawan, sementara murid lainnya berteriak memanaskan suasana. Deo yang memang lebih kuat akhirnya berhasil meminumkan teh itu ke mulut Alenia, tapi bukan Alenia namanya jika menyerah tanpa perlawanan. Karena memang teh itu terlalu asin, membuat Alenia tidak mau menelannya walau sudah dipaksa berkali-kali oleh Deo untuk menelannya.



Dengan sisa perlawanan terakhir Alenia menyemburkan teh itu tepat ke wajah Deo. Membuat seisi kelas berteriak heboh.
“Wwooohhh..................” teriak Anak-anak bersemangat. Melati, Nina dan Sari saling pandang. Mereka benar-benar tidak menyangka Alenia akan bertindak senekat ini.
Deo menyeka wajahnya yang basah sambil menatap geram ke arah Alenia, sementara gadis itu menyeka bibirnya yang masih terasa asin. Deo benar-benar tidak memprediksi bahwa Alenia akan membalasnya  lebih gila seperti ini.



“Kamu...Ikut saya....” bentak Deo menggenggam pergelangan tangan Alenia dan menyeretnya keluar dari kelas diiringi teriakan anak-anak lainnya.
“Kali ini kamu sudah keterlaluan Alenia...” ucap Deo saat mereka sudah berada di ruangan Leon.
“Bukannya Bapak yang keterlaluan sama saya?” Alenia tidak mau kalah.
“Apa salah seorang guru meminta muridnya mengambilkan teh? Kamu malah masukin garam ke teh saya,”
“Kenapa Pak Deo suruh saya, kan masih banyak murid yang lain. Udah tahu kalau kita lagi perang dunia, eh dia malah minta lawannya buat bikin rudal,” balas Alenia seenaknya membuat Deo mau tidak mau menahan tawa.




“Tapi kamu jelas keterlaluan,”
Disaat kedua orang itu saling berdebat pintu ruangan terbuka, dan kembali Leon menatap bingung menyaksikan mereka berdebat lagi. “Sekarang apa lagi?” tanya Leon saat ia telah duduk di kursinya, sementara dua orang yang bersengketa itu masih berdiri berhadapan.


“Kali ini, anak nakal ini sudah keterlaluan, aku minta bawakan teh, dia malah masukin garam sebanyak-banyaknya ke dalam teh,” cerocos Deo sambil mendorong kursi dan kini duduk berhadapan dengan Leon.
“Salah sendiri kenapa Pak Deo malah suruh saya, udah tau hubungan kita tuh kaya kucing dan tikus, eh malah suruh- suruh saya buat bawain teh, ya saya kerjain deh,” balas Alenia sambil melakukan hal yang sama seperti Deo, mendorong kursi dan duduk dihadapan Leon sambil menyilangkan kakinya dan melipat tangan di dadanya seakan mengobrol dengan teman seusianya.



Deo dan Leon ternganga menatap aksi gadis dihadapan mereka itu. Merasa bahwa sikapnya keterlaluan, Alenia segera berdiri sambil berujar, “Maaf, keceplosan,”. Deo menggelengkan kepalanya takjub sementara Leon tersenyum geli.
“Jadi hanya karena masalah itu?” tanya Leon lagi, keduanya mengangguk.
“Lalu kalian mau saya bagaimana? Menskorsing kalian berdua?”
“Jangan Pak. Kalau mau di skors, Pak Deo aja deh, jangan saya. Saya bisa digantung sama Mama kalau sampai bikin masalah lagi di sekolah,” bantah Alenia, Deo melotot gemas ke arahnya.



“Kalian selesaikan sendiri,” ucap Leon akhirnya kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Alenia dan Deo saling pandang. Lama mereka saling menatap namun tiba- tiba mereka dikejutkan oleh Leon yang muncul dari balik
pintu lagi.
“Kamu butuh baju ganti?” tanya Leon pada Deo.
“Gak usah Mas, aku selalu bawa baju cadangan di mobil,”



Seketika Alenia terpaku, Mas? Deo memanggil Leon dengan sebutan Mas?
“Iya, biar kamu tahu, Leon itu kakak saya. Itu kenapa saya bisa segampang ini masuk ke sekolah ini,” Deo menjawab kebingungan yang tergambar jelas di wajah Alenia.
“Kenapa? Bingung?” tanya Deo menatap Alenia dalam-dalam.



Tatapan Deo seolah menghipnotis gadis itu. Alenia menggeleng.
“Takut?” tanya Deo kemudian dan tanpa sadar Alenia mengangguk, sedetik kemudian menggeleng sekuatnya membuat Deo akhirnya melepaskan tawanya.
“Dasar ABG labil...” ledek Deo sambil mengacak-acak rambut Alenia kemudian pergi dari ruangan itu. Alenia mendelik sewot pada Deo yang masih terus tertawa.



“Abg labil?!?” pekik Alenia sewot, “Gue remaja Staaabiilllll...................” jerit Alenia sekuatnya di dalam ruangan kepala sekolahnya.

Rabu, 21 Oktober 2015

Cinta Botol Aqua

♥Sifat Alenia Yang Alami ♥

Alenia dan Rio memandangi Deo yang tengah menikmati permainan. Keduanya hanya bisa bengong menyaksikan pria dewasa yang ada di depan mereka ini yang sangat menggilai games lebih dari anak kecil.

“Kok gue serasa jadi ngejaga bayi gini yah?” gumam Alenia dan Rio hanya tertawa mendengarnya.
“Main itu yuk,” ajak Rio menunjuk satu permainan battle shoot di pojok ruangan. Alenia pun mengangguk setuju.



Keduanya pun berjalan meninggalkan Deo yang masih asyik dengan permainannya.
“Lihat, aku dapat poin tertinggi,” seru Deo girang, namun ia tidak mendapati Alenia dan Rio di dekatnya. Mata Deo menjelajah seisi ruangan mencari keberadaan mereka, dan.. di sanalah mereka, tengah tertawa bersama menikmati permainannya tanpa mempedulikan Deo. Dengan kesal Deo berjalan menghampiri keduanya.




“Minggir, saya mau main,” Deo mendorong Alenia dan merebut senjata yang dipegangnya, membuat Alenia berteriak kesal,
“Hei..!!”. Tadinya Alenia akan protes, namun melihat tatapan garang Deo, ia menelan kembali aksi protesnya. Dengan mengerahkan segenap kemampuan, keduanya beradu. Baik Deo dan Rio tidak ada yang mau mengalah pada permainan itu.





Rio pun menyadari bahwa Deo mempunyai perasaan khusus pada Alenia. Ia dapat melihat itu dari gelagat Deo yang selalu berusaha menarik perhatian Alenia ataupun mengusik kebersamaan mereka.
“Apa-apaa mereka? gumam Alenia kemudian berjalan pergi meninggalkan keduanya dan duduk di samping mesin minuman dingin.



Ketegangan antara Deo dan Rio mereda saat permainan berakhir. Keduanya pun celingukan mencari keberadaan Alenia yang tiba-tiba menghilang. Mata keduanya pun segera menemukan gadis itu. Mereka terpana takjub menyaksikan gadis usil itu yang tengah menendang mesin minuman dingin karena minuman yang dibelinya tak kunjung keluar.




Keduanya menggeleng serempak saat menyaksikan, sekali lagi Alenia mengambil ancang-ancang dan kemudian dengan sekuat tenaga menendang mesin itu menimbulkan suara berisik di sekeliling mesin.



“Wah...” desis Rio takjub saat Alenia berhasil mengeluarkan minumannya.
“Benar-benar anak itu,” ucap Deo tak kalah takjub. Melihat gadis itu membuka minumannya kemudian menenggak isinya dengan gaya khasnya, membuat Deo dan Rio menyadari sesuatu.




Mereka belum sadar dengan penampilan Alenia yang berbeda saat itu. tidak biasanya Alenia terlihat begitu feminim. Namun tetap saja, aksi yang dilakukannya tadi saat menendang mesin minum membuat sisi feminimnya menghilang.
“Gila lu ya Len,” desis Rio saat sudah berada di samping Alenia.
“Emang kenapa?” tanya Alenia bingung.
“Apa kamu gak sadar, tenaga kamu yang mirip kuli itu bisa menghancurkan mesinnya,” ledek Deo membuat Alenia mendesis kesal dan hampir menghantamkan botol aqua yang ia pegang ke wajah Deo.




“Eh...” teriak Deo mengingatkan. Alenia pun mengurungkan niatnya dan malah menendang botol aqua ke arah tempat sampah. Namun sial bagi Alenia, kembali tendangannya kurang sukses dan menghantam kepala seorang pria.
“Aduh...” pekik Alenia.
“Wah, sejarah terulang kembali nih,” gumam Deo membuat Rio bingung.
Alenia segera menghampiri korbannya untuk meminta maaf dan memungut botol aquanya.


“Aduh Mas, maaf ya,” ucap Alenia penuh sesal.
“Maaf..maaf..kalo gak bisa main bola jangan asal nendang,” bentak pria itu kesal.
"Bola? Inikan botol aqua?" gumam Alenia membuat pria itu berteriak makin kesal.
"Heiii...." bentaknya membuat nyali Alenia menciut. Deo yang melihat perubahan di wajah Narin pun segera menghampiri mereka.



“Maaf Mas, atas kelakuan adik saya. Kalau Mas butuh apa- apa untuk biaya pengobatan, silakan hubungi saya,” Deo memberikan kartu namanya. Si pria membaca kartu nama Deo, ia terdiam sesaat, lalu memandang Deo. Sepertinya ia
mengenal Deo.



“Oke,” balasnya kemudian pergi. Alenia menghela nafas lega, kemudian berpaling ke arah Deo. Deo menatap Alenia tajam. Menunggu reaksi apa yang akan ditunjukkan gadis itu.
“Makasih Pak Deo,” ucap Alenia sungguh-sungguh. Kali ini ia memang merasa sangat berhutang budi pada Deo.




“Lain kali hati-hati, jangan suka nendang botol aqua sembarangan. Cukup saya saja yang jadi korban kamu,” ucap Deo pelan, sehingga hanya ia dan Alenia yang bisa
mendengarnya.  Sementara Rio yang berdiri agak jauh dari mereka tidak dapat mendengar apapun. Namun ia dapat melihat dengan jelas bahwa Deo sangat menyukai gadis itu.




Alenia berjalan menuju ruang guru sambil membawa buku pr teman-teman sekelasnya. Bu Ria, guru IPA mereka memintanya untuk membawa buku-buku itu ke mejanya. Sambil bersenandung kecil Alenia berjalan di sepanjang koridor.
Deo yang saat itu baru selesai mengajar di kelas 1, tersenyum melihat gadis itu dari kejauhan. Dan kembali, sifat usilnya muncul. Ia berjalan mendekati gadis itu dan mulai meledek,



“Wah, gak sia-sia kamu makan banyak, tenaga kamu bisa dipakai buat ngangkut buku-buku pr siswa,”
“Udah deh Pak, saya lagi malas nih ngeladenin Bapak,” balas Alenia tenang. Tapi bukan Deo namanya kalau tidak bisa memancing rasa kesal Alenia.
“Oh ya, celana saya yang kena noda permen karet mana?” Alenia tersenyum manis ke arah Deo, Deo bisa menebak pasti ada yang tidak beres dengan senyuman itu.




“Hehe.. anu Pak, nodanya susah ngilang jadi,”
“Jadi?” tanya Deo curiga.
“Jadi celananya saya buang,” balas Alenia sambil tersenyum dengan cengirannya yang khas.
“Apa? Alenia, kamu ini, kok seenaknya buang barang milik orang lain,” jerit Deo mulai kehilangan kesabaran. Padahal celana itu adalah keluaran New York dan Deo bahkan harus terbang ke Amerika untuk mendapatkannya.




“Habis susah dibersihin, kan cuma celana doang,” ucap Alenia tanpa tahu sejarah celana itu.
“Cuma celana kamu bilang? Alenia, itu celana keluaran New York dan susah banget buat dapetinnya,” Deo sudah tidak bisa menahan luapan emosinya.
“Hah? New York? Yang merek terkenal itu?” pekik Alenia tak kalah kaget.
“Waduh, beruntung banget yang mungut tuh celana, dapat celana merek terkenal lagi,” gumam Alenia tidak mempedulikan Deo yang melotot kesal padanya.



“Hah? Bisa-bisanya kamu ngomong begitu,”
“Habis mau bilang apa lagi? Kan beruntung banget yang mulung, kalau aja dia tahu itu celana New...” Alenia menghentikan kata-katanya karena Deo sudah melotot padanya.
“Dan sebagai balasannya...” ucap Deo sambil mengaduk-aduk tumpukan buku yang dipegang Alenia, “Saya akan buang buku pr kamu biar kita impas,” lanjut Deo kesal sambil melemparkan buku pr Alenia ke atap sekolah.



“Eh..eh..Pak, ja...” Alenia menatap geram Deo, “Kita impas,” ucap Deo puas lalu
pergi meninggalkan Alenia.
“Arghh... dasar Monster...” teriak Alenia namun Deo hanya melambaikan tangannya dari kejauhan.



Alenia segera mengantarkan buku-buku pr itu ke meja guru. Bu Ria yang sudah menunggu dari tadi, bingung melihat Alenia yang baru tiba.
“Kok lama bener?” tanya bu Ria.
“Itu Bu, tadi saya ke toilet dulu. Oh ya bu, buku pr saya, tadi jatuh entah dimana, saya cari dulu ya bu,” jelas Alenia, Bu Riapun mengangguk.




Alenia berjalan menuju koridor tempat ia dan Deo tadi bertemu. Ia akan mengambil buku pr nya, bagaimanapun caranya. Sepanjang jalan ia terus mengumpat dan mengutuk Deo, membuat Sari, Nina dan Melati yang menemaninya bingung
tidak karuan.



“Dasar monster, gak punya perasaan, kurang ajar, makhluk berdarah dingin, dasar nyamuk..”
“Lu kenapa sih Len?” tanya Melati, “Pusing tahu dengar celotehan lu yang gak jelas,”
“Pak Deo, dia lemparin buku pr IPA gue, gara-gara gue buang celananya yang kena permen karet itu,”
“Hah? Segitu doang Pak Deo sampai balas dendam?” tanya Sari.



“Yah.. karena.. celananya itu merek New York..”
“Hah? NEWYORK!!” teriak ketiganya bersamaan. Alenia mengangguk menujukkan wajah polosnya.
“Ya iyalah, songong, celana mahal lu buang seenaknya. Untung dia gak minta ganti, kalo enggak habis deh lu,” jerit Melati sambil memukul kepala Alenia, tidak habis pikir dengan ulah sahabatnya.



“Eh, tahu gejrot, kalo gue tahu itu New York, gue juga gak bakal buang, mending gue lelang di inetrnet,” balas Alenia sewot.
“Yeah...” teriak ketiganya di telinga Alenia.



Dengan tangga yang ia pinjam dari pak Dimas, Alenia memanjat atap sekolah untuk mengambil bukunya. Aksinya itu tentu saja mengundang decak kagum dari murid-murid. Tentu saja, karena saat itu memang jam istirahat.
“Awas jatuh Len, entar kalo lu jatuh bumi bisa terbelah dua,” ledek Dino dari lapangan basket membuat anak-anak tertawa.



“Eh, cungkring, lu kira gue tongkat Nabi Musa, bisa membelah bumi,” teriak Alenia dari atas atap, disambut tawa teman- temannya.
“Euw...ada monyet ragunan lepas, pawangnya pada kemana ya?” ejek Rere saat ia dan Genknya lewat.
“Aduh, talinya mana.. tali.. bahaya loh, kalo sampe monyetnya nularin virus Ebola,” timpal Nayla membuat mereka tertawa.



“Eh Mak lampir, monyet gak bawa virus Ebola goblok, yang ada elu tuh bawa virus rabies, dasar biang resek,” balas Alenia tak mau kalah.
“Euw..monyetnya bisa ngomong,” ledek mereka lagi. Alenia yang sudah teramat kesal pun melemparkan dedaunan yang ada di atap tepat ke kepala mereka membuat para biang gosip itu menjerit dan berlarian. Alenia dan ketiga sahabatnya yang menunggu di bawah pun tertawa puas melihat gadis-gadis centil itu berlarian.



“Dasar cewek stress lu,” teriak Rere dari ujung sana.
“EUW....” balas Melati, Sari dan Nina kompak.




Saat sekolah berakhir, Alenia sudah menyusun rencana pembalasan untuk Deo. Dengan tergesa-gesa, diiringi ketiga sahabatnya, mereka menuju parkiran.
‘”Lu yakin mau ngebalas Pak Deo, Len?” tanya Melati ragu dengan rencana mereka.
“Seratus persen,” ucap Alenia mantap.
“Kalau ketahuan gimana?” tanya Sari mulai panik, “Lagian kasihan Pak Deo dong,”
“Hei, Cumi goreng, Lu temen gue apa Pak Deo? Kalo takut, mending lu balik gih,” Usir Alenia kesal.
“Ya, temen lu,” jawab Sari, “Tapi gue juga fansnya Pak Deo,” sambungnya.




“Ih.. dasar..” Alenia menjitak kepala Sari.
“Udah dong debatnya, cepetan, nanti keburu pada datang,” Nina mengingatkan.
Dengan ganas, Alenia menggemboskan salah satu ban mobil Deo. Setelah misinya selesai, keempat gadis itupun berlari meninggalkan lapangan parkir. Setelah kepergian keempat gadis itu, Deo muncul. Dengan segera ia menyalakan mobilnya
dan keluar dari parkiran.




Namun tak berapa jauh mobil berjalan, Deo merasakan ada yang tidak beres dengan
mobilnya. Deo menghentikan laju mobilnya dan keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi. Betapa terkejutnya Deo saat melihat ban depan kanan mobilnya kempes tanpa udara sedikitpun. Iapun menendang bannya sambil mengumpat,




“Sialan.. tadi nih mobil baik-baik aja, kenapa sekarang...”. Sebuah pemikiran terlintas di kepala Deo. Ini pasti ulah gadis itu. Alenia. Siapa lagi yang akan membalasnya habis-habisan selain dia. Deo hanya bisa memandangi ban mobilnya sambil menghela nafas panjang.



“ Alenia.. Ada saja yang kamu lakukan untuk membalas saya,” desahnya. Sementara tak jauh dari tempatnya berdiri, keempat gadis nakal itu tertawa geli melihat tampang kesal guru tampan mereka.
“Jangan macam-macam dengan Alenia Putri, Alenia dilawan...” gumam Alenia puas.

Selasa, 20 Oktober 2015

Cinta Botol Aqua

♥ Usaha Awal Deo Menjauhkan Alenia Dari Rio ♥



Sore itu mama memaksa Alenia untuk menemaninya berbelanja keperluan bulanan. Alenia sudah menolak habis-habisan dengan mengemukakan berbagai alasan. Ia sakit perut, datang bulan, tidak enak badan, banyak pr, apapun, namun tetap saja
mama memaksanya ikut. Dengan wajah ditekuk dua belas seperti seorang tawanan perang di kirim ke tiang gantungan, Alenia akhirnya mengikuti langkah mama.



“Aduh, cepetan dong Len,ntar keburu malam,” desak mama saat melihat Alenia berjalan begitu pelan dan ogah-ogahan.
“Aduh, nih anak perempuan, biasa paling lincah kaya bajing lompat, kok jadi lelet begini sih,” mama menarik tangan Alenia,
“Muka juga jangan ditekuk gitu, ntar gak ada cowok yang mau sama kamu,” cerocos mama lagi.



Setelah menempuh perjalanan yag cukup membuat kuping panas dingin, karena sepanjang perjalanan mama tidak henti- hentinya mengoceh membuat kepala Alenia pusing seperti mau pecah, akhirnya mereka sampai di Mall. Sepanjang jalan pun mama terus berceloteh.



Mengomentari bagaimana sikap Alenia, caranya berpakaian yang menurut mama sangat tidak fashionabel, terlebih saat ini. Alenia hanya mengenakan celana jins belelnya yang sudah robek dibagian lutut, kaos yang dipadankan dengan kemeja kotak-kotak dan sepatu ketsnya. Apalagi saat mama melihat tatanan rambut Alenia
yang...eugh.. mama rasanya ingin memotong pendek rambut anak semata wayangnya itu.



Jika bukan karena rambutnya yang bagus dan satu-satunya identitas yang menegaskan bahwa Alenia seorang perempuan, bukan makhluk setengah- setengah, mama pasti sudah memotongnya. Alenia memiliki rambut coklat panjang yang indah, namun ia lebih suka menguncir rambutnya sembarangan atau menggelungnya
menjadi sanggul berantakan.




“Pokoknya nanti kita harus ke salon,” perintah mama padanya.
“Apa? Kita? Gak deh, Mama aja,”balas Alenia dengan enggan. Dan belum lagi tiba di bagian perlengkapan rumah tangga, mama segera menarik Alenia masuk ke salon yang mereka lewati.


“Gak Mau,” tolak Alenia sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mamanya.
“Ayo Alenia...” paksa mama tidak mau kalah.
“Pokoknya Alenia gak mau,”



Terjadilah pergulataan tarik menarik antar ibu dan anak itu hingga menjadi tontonan para pengunjung Mall. Pegawai salon yang melihat ulah ibu dan anak itupun segera keluar untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Ada apa sih, Cin,” tanya pegawai salon yang seorang waria. Mama Alenia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan akan bala bantuan yang datang. Dengan segera mama
meminta pegawai salon itu untuk menarik paksa Alenia, “Bantu saya bawa masuk anak ini,”
“Oke Cin...” teriak sang waria dengan senang hati.



Alenia yang di dekati makhluk seperti itu pun merasa geli. Melihat dirinya akan di pegang-pegang oleh waria yang ada dihadapannya, Alenia menyerah kalah,
“Ok..ok.. gak usah minta bantuan dia, Alenia nyerah...” balas Alenia sambil mengangkat kedua tangan ke atas kepala, “Alenia masuk,” ucap mamanya lagi sambil mengisyaratkan telunjuknya bahwa ia akan masuk ke dalam. Mama tersenyum puas.




Di dalam salon, Alenia dipermak habis-habisan. Rambutnya di creambath dan ditata dengan rapi, wajahnya pun dibersihkan dengan berbagai treatment. Namun ia tidak ingin setitik make up pun dipoles di wajahnya. Selesai dengan segala perawatan,
mama tersenyum senang melihat anak gadisnya kelihatan lebih bersih.


“Mama puas?” tanya Alenia dengan wajah cemberut saat mereka keluar dari salon. Mama hanya tersenyum menanggapi.
“Tapi ada yang kurang,” ucap mama kemudian.
“Apa lagi?” tanya Alenia sebal. Mamapun melirikkan matanya ke sebuah toko pakaian wanita membuat Alenia Berteriak semakin sebal, “Oh..No!”




“Sekarang anak Mama baru kelihatan cantik,” puji mama saat mereka keluar dari toko dan menuju pusat perbelanjaan kebutuhan rumah tangga. Alenia semakin menekuk wajahnya menjadi dua kali lipat kesalnya. Ia memperhatikan dirinya yang di dandani ala Girlband Korea. Dengan kaos berbahan Chiffon berwarna pink lembut, dan rok dengan warna senada. Membuat Alenia tidak henti-hentinya menggerutu akan
penampilannya.




“Cantik apaan? Udah kaya topeng monyet gini, cakepan juga monyetnya kalau didandanin pake baju ini dibandingin gue,” gerutunya habis-habisan.
Berbelanja dengan mama, adalah hal paling menyebalkan bagi Alenia. Janjinya tidak akan memakan waktu lama, namun sudah hampir dua jam mereka berkutat di tempat itu. berkali- kali Alenia merengek minta pulang, namun mama selalu menyuruhnya diam karena banyak hal yang mau dibeli.


“Kamu kaya bayi aja sih, minta pulang terus. Anak yang lebih kecil dari kamu aja bisa betah kok,” ejek mama sambil menunjuk beberapa anak kecil yang menemani ibunya
berbelanja. Alenia hanya memanyunkan bibirnya.



Akhirnya penantian Alenia terjawab sudah, mama menyudahi acara belanjanya. Saat mereka mendorong troley yang penuh barang-barang belanjaan, seseorang memanggil Alenia.



“Alenia?” seketika Alenia dan mamanya menoleh.
“Rio?”
“Hai, gak nyangka kita ketemu di sini,”balas Rio, “Halo Tante, saya Rio, teman SD Alenia dulu,” ucap Rio mengingatkan.
“Oh iya, apa kabar kamu?” tanya mama ramah, walau sebenarnya ia tidak terlalu ingat.
“Baik Tante,”



“Kebetulan lu di sini, temenin gue ya, gue bosan nih dari tadi nemenin emak-emak belanja,” pinta Alenia sambil menarik tangan Rio dan dengan cepat mencium pipi mama untuk berpamitan, “Dah Mama...” ucap Alenia dan dalam sekejap mata ia berlari menyeret Rio bersamanya meninggalkan mama yang masih bengong dengan kelakuan anaknya.



“Hei.. Len.. Terus mama gimana?” teriak mama mengagetkan seluruh pengunjung.
“Mama minta satpam buat angkutin itu aja,” teriak Alenia dari kejauhan.
“Dasar anak itu,” gerutu mama, namun seketika mama langsung tersenyum sumringah pada orang-orang yang heran menatapnya.



“Maaf...” ucap mama menahan malu.
“Tega banget sih ninggalin nyokab lu sendiri?” tanya Rio saat mereka sudah berada di salah satu kafe di Mall.
“Biarinlah, Mama gue kan bukan anak kecil lagi. Paling kalo nyasar tinggal telpon Papa, terus di jemput,” balas Alenia cuek sambil terus menikmati es krim coklatnya.



Rio hanya menggelengkan kepala mandengar penuturan teman kecilnya yang tidak pernah berubah itu. Dan sikap apa adanya Alenia itu lah yang membuat Rio senang berada di dekatnya.



Sebenarnya sejak kelas enam SD, Rio sudah menyukai Alenia. Namun karena saat itu mereka masih sangat kecil, rasa suka yang Rio rasakan mungkin sekedar cinta monyet yang akan hilang saat mereka tidak satu sekolah lagi. Nyatanya, saat Rio bertemu dengan Alenia pada pertandingan basket itu, ia menyadari bahwa ia masih menyimpan rasa suka yang dulu pernah ada di hatinya.


Bahkan bertambah, saat ia melihat sosok Alenia yang tetap sama, namun tumbuh menjadi gadis mengagumkan dan cantik. Walau kecantikannya tertutupi oleh sikapnya yang cuek dan serampangan.




Tak jauh dari tempat Alenia dan Rio menikmati makanannya, sesosok pria terus memperhatikan mereka. Pria itu tak lain adalah Deo. Deo baru saja selesai makan bersama Leon dan Raisa istrinya, juga putri kecil mereka Lila. Ia tak lepas
memandangi Alenia yang terlihat begitu akrab dengan Rio.



Menyaksikan gadis yang dikejarnya habis-habisan terlihat akrab dengan pria lain membuat rasa cemburu Deo timbul. Tanpa sadar Ia bangkit dan akan mendatangi meja mereka.
“De, mau kemana? Kita mau pulang nih,” suara Leon menyadarkan Deo.
“Mas sama Mbak Raisa duluan aja deh, aku masih ada urusan,” ucap Deo berjalan pergi meninggalkan Leon dan istrinya.


“Dasar, mau kemana sih dia?” tanya Leon penasaran.
“Udah deh, biarin aja. Mungkin Deo mau refreshing sejenak. Dia kan bosan berkutat dengan sekolah terus,” Raisa mengingatkan suaminya. Kemudian merekapun pergi dari tempat itu.




Saat tengah asyik bercerita tiba-tiba Alenia dan Rio dikejutkan dengan kehadiran makhluk yang sangat tidak diinginkan keberadaannya oleh Alenia.
“Hai Alenia?” sapa Deo dengan senyum mengembang sambil duduk di kursi di samping Alenia.
“Hah? Ngapain di sini?” tanya Alenia curiga.
“Kebetulan banget ya kita ketemu di sini?” Deo mengalihkan pembicaraan, “OH, kamu anak basket dari SMA CENDANA itu kan?” tanyanya pada Rio.



Rio yang tidak mengenal Deo pun hanya mengangguk dengan gurat kebingungan yang terpancar jelas di wajahnya.
“Udah ah, yuk cabut, suasananya udah mulai gak enak nih,” ajak Alenia sambil menggenggam tangan Rio. Dan O..ow.. Deo cemburu. Dengan cepat ia memotong kedekatan keduanya dan berdiri ditengah-tengah antara Alenia dan Rio, membuat Alenia semakin bingung dan pastinya kesal.



“Pak De apa-apaan sih?”
“Kalian mau kemana setelah ini? Gimana kalau kita bareng- bareng aja,” Deo mulai menyusun taktik untuk mengganggu kebersamaan mereka.
“Kamu mau kemana Len?” tanya Rio pada Alenia. Namun Alenia diam, ia bingung mau menjawab apa. Dan tanpa aba- aba, Deo menarik tangan Alenia, “Kita main Game saja,” sahut Deo dan menggiring Alenia menuju arena permainan diikuti Rio yang berjalan di belakang mereka.