Jumat, 23 Oktober 2015

Cinta Botol Aqua

♥ Perang Dunia Ke-5 ♥


Alenia memperhatikan kue-kue yang terlihat lezat di lemari kaca toko yang mereka kunjungi. Ia bingung akan mengambil yang mana. Sementara ketiga temannya telah duduk dengan cemilan masing-masing.
“Len, cepetan dong, lama amat mikirnya?” tanya Nina dari tempat duduk yang mereka pilih di sudut ruangan.
“Bentar dong, bingung nih. Abis, kelihatannya enak semua,” balas Alenia sambil meletakkan beberapa potong kue ke dalam nampan yang ia pegang.



“Pantas tenaga kamu seperti kuli, makannya sebanyak itu,” celetuk sebuah suara yang tak asing di telinga Alenia. Tanpa Alenia sadari sejak tadi Deo sudah berdiri di belakang Alenia. Dan saat ini posisi mereka benar-benar membuat Alenia canggung setengah mati. Deo memang berdiri di belakangnya namun posisi pipi kiri Deo  tepat bersisian dengan pipi kanan



Alenia hingga membuat gadis itu kikuk. Alenia pun menarik tubuhnya menjauh dan menghadap Deo dengan tatapan galak.
“Biarin makan saya banyak, yang pasti saya gak minta dibayarin kan?” balas Alenia sewot, “Lagian ngapain di sini?”
“Ini tempat umum Alenia,”



Saat mereka tengah berdebat, Sari muncul untuk melihat apa yang menghalangi Alenia sehingga ia begitu lama.
“Len, lama bang...” Sari bersiap meyemprotnya namun saat melihat Deo, sikapnya berubah. “Eh Pak Deo,” sapa Sari manja, Alenia Cuma menggeleng sebal melihat tingkah sahabatnya yang biasanya sradak sruduk seperti dirinya, tiba- tiba berubah menjadi cewek manis di depan Deo.



Memang benar-benar, pikir Alenia, cowok bisa bikin karakter cewek jungkir balik. Dari yang serampangan seperti preman pasar, menjadi semanis princess Disney. Alenia rasanya mau muntah setiap kali melihat ada cewek yang menutupi dirinya yang
sebenarnya hanya agar dipandang baik. Klise! Ia tidak akan mau menjadi cewek boneka seperti itu. Dan kali ini ingin rasanya ia menyeret Sari terus mencemplungkan gadis itu ke got karena bertingkah seperti itu.



“Halo, Sari. Kalian pada ngumpul?” tanya Deo ramah.
“Iya Pak. Bapak mau ikut gabung?” tawar Sari membuat Alenia mendelik sewot padanya namun tidak dipedulikan Sari. Apa-apaan tuh cewek sableng? Maki Alenia lagi dalam hati.
“Boleh,” Deo menerima tanpa ragu, dan Alenia pasrah moodnya harus rusak gara-gara Deo Untuk mata pelajaran olahraga kali ini Deo tidak membawa murid-muridnya keluar kelas. Ia akan memberi pelajaran materi tulisan.


Anak-anak perempuan melakukan protes kecil, karena mereka tidak bisa berdekatan dengan guru keren itu. Namun Alenia sangat bersyukur karena itu berarti ia akan
terbebas dari kezaliman Deo.
“Alhamdulillah.. bagus deh,” ucap Alenia sambil menengadahkan tangannya ke atas seperti orang berdoa. Deo yang melirik ke arah Alenia merasa geli dengan sikapnya itu.



“Jangan kira kamu akan lepas semudah itu dari saya,” ucap Deo merencanakan ide di kepalanya untuk membuat gadis itu kesal. Sehari saja ia tidak melihat wajah dongkol Alenia atau wajah cemberutnya karena ulah Deo, membuat dunia Deo serasa tidak hidup.



“ Alenia...” panggil Deo saat gadis itu tengah menulis tugas yang diberikan Deo.
“Hah? Saya?” Alenia meletakkan telunjuk di depan hidungnya sebagai isyarat. Dari kursinya Deo mengangguk sambil melambaikan tangan memanggil Alenia. Mau tidak mau Alenia berjalan menghadap Deo.
“Ada apa?” tanya Alenia ketus.
“Tolong ambilkan teh saya, bisa?”
“Hah? Tapi itu kan tugasnya Pak Dimas?” protes Alenia.
“Tapi Pak Dimas belum datang Alenia, jadi saya minta tolong kamu yang ambilkan, cepat,” perintah Deo sambil mendorong punggung Alenia menuju pintu kelas.




“Eh..eh..e.....”protes Alenia lagi namun Deo mengibaskan tangannya memerintahkan Alenia pergi. Dengan kesal Alenia pun berjalan menuju dapur sekolah. Saat ia tiba, kebetulan pak Dimas baru akan mengantarkan teh untuk para guru.
“Mau kemana neng Alenia?” tanya paka Dimas.
“Eh itu Pak, mau ambil teh untuk Pak Deo,”
“Lah, ini baru mau Bapak antar,” pak Dimas menunjukkan sebaki teh yang akan ia antarkan. Terbersit ide jahil di kepala Alenia untuk membalas Deo.



“Eh, Pak, teh buat Pak Deo, biar Alenia yang bawa, ok!” pinta Alenia sambil mengambil segelas teh dari baki yang dibawa pak Dimas.
“Oh ya sudah, Bapak jalan dulu ya,”pamit pak Dimas.
“Ok Pak!” balas Alenia.
Begitu pak Dimas menghilang dari pandangan, Alenia masuk ke dapur dan dengan semena-mena ia menambahkan tiga sendok makan garam ke dalam teh Deo.
“Pak Deo, ini teh buat kamu, teh Asiiinnn... rasa air laut...hehe..”



Setelah melaksanakan misinya, Alenia kembali ke kelas. Sebelumnya ia memasang wajah malaikat polosnya alias muka datarnya untuk mengelabui Deo. Jangan sampai Deo curiga Alenia berniat membalasnya.


“Ini tehnya..” Alenia meletakkan teh di meja Deo.
“Terima kasih Alenia..” ucap Deo sambil tersenyum sangat manis membuat cewek-cewek satu kelas terpekik histeris.
“Mampus.. dia pake acara senyuman maut lagi..” maki Alenia dalam hati kemudian cepat-cepat berlalu dari hadapan Deo.



Sambil memeriksa beberapa tugas muridnya, Deo bersiap menikmati teh yang dibawakan Alenia. Sementara Alenia kembali mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda tadi. Perlahan Deo mendekatkan gelas teh ke bibirnya dan mulai meminum tehnya. Seketika ekspresi wajah Deo berubah.



Seluruh tubuhnya mengejang kaku, ia berusaha menahan teh yang ada di dalam mulutnya agar tidak tertelan. Semua murid memperhatikan ekspresi wajah Deo, tak terkecuali Alenia yang memandang Deo dengan wajah polosnya. Deo melotot ke arah
Alenia dan dengan susah payah.. akhirnya teh itu meluncur lepas ke kerongkongannya. Wajah Deo berubah tidak karuan menahan rasa asin yang luar biasa di mulutnya. Mau tidak mau, melihat ekspresi Deo yang lucu tawa Alenia hampir lepas.




“Alenia....” panggil Deo dengan suara tertahan.
“Ya ..Pak, “ balas Alenia berusaha menyembunyikan tawanya.
“Apa yang kamu masukin ke teh saya?” Deo berusaha menahan ledakan suaranya.
“Gula Pak,”
“Gula? Kenapa rasa tehnya aneh ya?”
“Masa sih Pak?” kedua guru dan murid itu masih memainkan sandiwara sebelum perang di mulai membuat murid-murid lainnya bingung.



“Kalau memang kamu masukin gula coba deh kamu rasakan tehnya,” perintah Deo.
“Gak usah Pak, itu kan bekas Bapak minum, saya gak mau ketularan gilanya Bapak,” balas Alenia setengah bercanda membuat seisi kelas tertawa. Deo benar-benar dihabisi dalam permainan ini. Ia tidak tahan lagi dan berjalan menuju meja Alenia sambil membawa tehnya.




“Ini, kamu rasakan tehnya..” perintah Deo sambil memaksa Alenia meminum tehnya.
“Gak mau...” Alenia memberontak namun Deo menahan tubuh Alenia dengan merangkulnya dan dengan paksa meminumkan teh itu ke mulut Alenia.
“Minum...” ucap Deo gemas namun Alenia tetap menolak dengan tetap menutup mulutnya menghindari paksaan Deo.



Terjadi pergulatan di kelas membuat seisi kelas bersorak. Deo dan Alenia laksana dua pegulat yang saling menjatuhkan lawan, sementara murid lainnya berteriak memanaskan suasana. Deo yang memang lebih kuat akhirnya berhasil meminumkan teh itu ke mulut Alenia, tapi bukan Alenia namanya jika menyerah tanpa perlawanan. Karena memang teh itu terlalu asin, membuat Alenia tidak mau menelannya walau sudah dipaksa berkali-kali oleh Deo untuk menelannya.



Dengan sisa perlawanan terakhir Alenia menyemburkan teh itu tepat ke wajah Deo. Membuat seisi kelas berteriak heboh.
“Wwooohhh..................” teriak Anak-anak bersemangat. Melati, Nina dan Sari saling pandang. Mereka benar-benar tidak menyangka Alenia akan bertindak senekat ini.
Deo menyeka wajahnya yang basah sambil menatap geram ke arah Alenia, sementara gadis itu menyeka bibirnya yang masih terasa asin. Deo benar-benar tidak memprediksi bahwa Alenia akan membalasnya  lebih gila seperti ini.



“Kamu...Ikut saya....” bentak Deo menggenggam pergelangan tangan Alenia dan menyeretnya keluar dari kelas diiringi teriakan anak-anak lainnya.
“Kali ini kamu sudah keterlaluan Alenia...” ucap Deo saat mereka sudah berada di ruangan Leon.
“Bukannya Bapak yang keterlaluan sama saya?” Alenia tidak mau kalah.
“Apa salah seorang guru meminta muridnya mengambilkan teh? Kamu malah masukin garam ke teh saya,”
“Kenapa Pak Deo suruh saya, kan masih banyak murid yang lain. Udah tahu kalau kita lagi perang dunia, eh dia malah minta lawannya buat bikin rudal,” balas Alenia seenaknya membuat Deo mau tidak mau menahan tawa.




“Tapi kamu jelas keterlaluan,”
Disaat kedua orang itu saling berdebat pintu ruangan terbuka, dan kembali Leon menatap bingung menyaksikan mereka berdebat lagi. “Sekarang apa lagi?” tanya Leon saat ia telah duduk di kursinya, sementara dua orang yang bersengketa itu masih berdiri berhadapan.


“Kali ini, anak nakal ini sudah keterlaluan, aku minta bawakan teh, dia malah masukin garam sebanyak-banyaknya ke dalam teh,” cerocos Deo sambil mendorong kursi dan kini duduk berhadapan dengan Leon.
“Salah sendiri kenapa Pak Deo malah suruh saya, udah tau hubungan kita tuh kaya kucing dan tikus, eh malah suruh- suruh saya buat bawain teh, ya saya kerjain deh,” balas Alenia sambil melakukan hal yang sama seperti Deo, mendorong kursi dan duduk dihadapan Leon sambil menyilangkan kakinya dan melipat tangan di dadanya seakan mengobrol dengan teman seusianya.



Deo dan Leon ternganga menatap aksi gadis dihadapan mereka itu. Merasa bahwa sikapnya keterlaluan, Alenia segera berdiri sambil berujar, “Maaf, keceplosan,”. Deo menggelengkan kepalanya takjub sementara Leon tersenyum geli.
“Jadi hanya karena masalah itu?” tanya Leon lagi, keduanya mengangguk.
“Lalu kalian mau saya bagaimana? Menskorsing kalian berdua?”
“Jangan Pak. Kalau mau di skors, Pak Deo aja deh, jangan saya. Saya bisa digantung sama Mama kalau sampai bikin masalah lagi di sekolah,” bantah Alenia, Deo melotot gemas ke arahnya.



“Kalian selesaikan sendiri,” ucap Leon akhirnya kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Alenia dan Deo saling pandang. Lama mereka saling menatap namun tiba- tiba mereka dikejutkan oleh Leon yang muncul dari balik
pintu lagi.
“Kamu butuh baju ganti?” tanya Leon pada Deo.
“Gak usah Mas, aku selalu bawa baju cadangan di mobil,”



Seketika Alenia terpaku, Mas? Deo memanggil Leon dengan sebutan Mas?
“Iya, biar kamu tahu, Leon itu kakak saya. Itu kenapa saya bisa segampang ini masuk ke sekolah ini,” Deo menjawab kebingungan yang tergambar jelas di wajah Alenia.
“Kenapa? Bingung?” tanya Deo menatap Alenia dalam-dalam.



Tatapan Deo seolah menghipnotis gadis itu. Alenia menggeleng.
“Takut?” tanya Deo kemudian dan tanpa sadar Alenia mengangguk, sedetik kemudian menggeleng sekuatnya membuat Deo akhirnya melepaskan tawanya.
“Dasar ABG labil...” ledek Deo sambil mengacak-acak rambut Alenia kemudian pergi dari ruangan itu. Alenia mendelik sewot pada Deo yang masih terus tertawa.



“Abg labil?!?” pekik Alenia sewot, “Gue remaja Staaabiilllll...................” jerit Alenia sekuatnya di dalam ruangan kepala sekolahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar