♥ Usaha Awal Deo Menjauhkan Alenia Dari Rio ♥
Sore itu mama memaksa Alenia untuk menemaninya berbelanja keperluan bulanan. Alenia sudah menolak habis-habisan dengan mengemukakan berbagai alasan. Ia sakit perut, datang bulan, tidak enak badan, banyak pr, apapun, namun tetap saja
mama memaksanya ikut. Dengan wajah ditekuk dua belas seperti seorang tawanan perang di kirim ke tiang gantungan, Alenia akhirnya mengikuti langkah mama.
“Aduh, cepetan dong Len,ntar keburu malam,” desak mama saat melihat Alenia berjalan begitu pelan dan ogah-ogahan.
“Aduh, nih anak perempuan, biasa paling lincah kaya bajing lompat, kok jadi lelet begini sih,” mama menarik tangan Alenia,
“Muka juga jangan ditekuk gitu, ntar gak ada cowok yang mau sama kamu,” cerocos mama lagi.
Setelah menempuh perjalanan yag cukup membuat kuping panas dingin, karena sepanjang perjalanan mama tidak henti- hentinya mengoceh membuat kepala Alenia pusing seperti mau pecah, akhirnya mereka sampai di Mall. Sepanjang jalan pun mama terus berceloteh.
Mengomentari bagaimana sikap Alenia, caranya berpakaian yang menurut mama sangat tidak fashionabel, terlebih saat ini. Alenia hanya mengenakan celana jins belelnya yang sudah robek dibagian lutut, kaos yang dipadankan dengan kemeja kotak-kotak dan sepatu ketsnya. Apalagi saat mama melihat tatanan rambut Alenia
yang...eugh.. mama rasanya ingin memotong pendek rambut anak semata wayangnya itu.
Jika bukan karena rambutnya yang bagus dan satu-satunya identitas yang menegaskan bahwa Alenia seorang perempuan, bukan makhluk setengah- setengah, mama pasti sudah memotongnya. Alenia memiliki rambut coklat panjang yang indah, namun ia lebih suka menguncir rambutnya sembarangan atau menggelungnya
menjadi sanggul berantakan.
“Pokoknya nanti kita harus ke salon,” perintah mama padanya.
“Apa? Kita? Gak deh, Mama aja,”balas Alenia dengan enggan. Dan belum lagi tiba di bagian perlengkapan rumah tangga, mama segera menarik Alenia masuk ke salon yang mereka lewati.
“Gak Mau,” tolak Alenia sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mamanya.
“Ayo Alenia...” paksa mama tidak mau kalah.
“Pokoknya Alenia gak mau,”
Terjadilah pergulataan tarik menarik antar ibu dan anak itu hingga menjadi tontonan para pengunjung Mall. Pegawai salon yang melihat ulah ibu dan anak itupun segera keluar untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Ada apa sih, Cin,” tanya pegawai salon yang seorang waria. Mama Alenia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan akan bala bantuan yang datang. Dengan segera mama
meminta pegawai salon itu untuk menarik paksa Alenia, “Bantu saya bawa masuk anak ini,”
“Oke Cin...” teriak sang waria dengan senang hati.
Alenia yang di dekati makhluk seperti itu pun merasa geli. Melihat dirinya akan di pegang-pegang oleh waria yang ada dihadapannya, Alenia menyerah kalah,
“Ok..ok.. gak usah minta bantuan dia, Alenia nyerah...” balas Alenia sambil mengangkat kedua tangan ke atas kepala, “Alenia masuk,” ucap mamanya lagi sambil mengisyaratkan telunjuknya bahwa ia akan masuk ke dalam. Mama tersenyum puas.
Di dalam salon, Alenia dipermak habis-habisan. Rambutnya di creambath dan ditata dengan rapi, wajahnya pun dibersihkan dengan berbagai treatment. Namun ia tidak ingin setitik make up pun dipoles di wajahnya. Selesai dengan segala perawatan,
mama tersenyum senang melihat anak gadisnya kelihatan lebih bersih.
“Mama puas?” tanya Alenia dengan wajah cemberut saat mereka keluar dari salon. Mama hanya tersenyum menanggapi.
“Tapi ada yang kurang,” ucap mama kemudian.
“Apa lagi?” tanya Alenia sebal. Mamapun melirikkan matanya ke sebuah toko pakaian wanita membuat Alenia Berteriak semakin sebal, “Oh..No!”
“Sekarang anak Mama baru kelihatan cantik,” puji mama saat mereka keluar dari toko dan menuju pusat perbelanjaan kebutuhan rumah tangga. Alenia semakin menekuk wajahnya menjadi dua kali lipat kesalnya. Ia memperhatikan dirinya yang di dandani ala Girlband Korea. Dengan kaos berbahan Chiffon berwarna pink lembut, dan rok dengan warna senada. Membuat Alenia tidak henti-hentinya menggerutu akan
penampilannya.
“Cantik apaan? Udah kaya topeng monyet gini, cakepan juga monyetnya kalau didandanin pake baju ini dibandingin gue,” gerutunya habis-habisan.
Berbelanja dengan mama, adalah hal paling menyebalkan bagi Alenia. Janjinya tidak akan memakan waktu lama, namun sudah hampir dua jam mereka berkutat di tempat itu. berkali- kali Alenia merengek minta pulang, namun mama selalu menyuruhnya diam karena banyak hal yang mau dibeli.
“Kamu kaya bayi aja sih, minta pulang terus. Anak yang lebih kecil dari kamu aja bisa betah kok,” ejek mama sambil menunjuk beberapa anak kecil yang menemani ibunya
berbelanja. Alenia hanya memanyunkan bibirnya.
Akhirnya penantian Alenia terjawab sudah, mama menyudahi acara belanjanya. Saat mereka mendorong troley yang penuh barang-barang belanjaan, seseorang memanggil Alenia.
“Alenia?” seketika Alenia dan mamanya menoleh.
“Rio?”
“Hai, gak nyangka kita ketemu di sini,”balas Rio, “Halo Tante, saya Rio, teman SD Alenia dulu,” ucap Rio mengingatkan.
“Oh iya, apa kabar kamu?” tanya mama ramah, walau sebenarnya ia tidak terlalu ingat.
“Baik Tante,”
“Kebetulan lu di sini, temenin gue ya, gue bosan nih dari tadi nemenin emak-emak belanja,” pinta Alenia sambil menarik tangan Rio dan dengan cepat mencium pipi mama untuk berpamitan, “Dah Mama...” ucap Alenia dan dalam sekejap mata ia berlari menyeret Rio bersamanya meninggalkan mama yang masih bengong dengan kelakuan anaknya.
“Hei.. Len.. Terus mama gimana?” teriak mama mengagetkan seluruh pengunjung.
“Mama minta satpam buat angkutin itu aja,” teriak Alenia dari kejauhan.
“Dasar anak itu,” gerutu mama, namun seketika mama langsung tersenyum sumringah pada orang-orang yang heran menatapnya.
“Maaf...” ucap mama menahan malu.
“Tega banget sih ninggalin nyokab lu sendiri?” tanya Rio saat mereka sudah berada di salah satu kafe di Mall.
“Biarinlah, Mama gue kan bukan anak kecil lagi. Paling kalo nyasar tinggal telpon Papa, terus di jemput,” balas Alenia cuek sambil terus menikmati es krim coklatnya.
Rio hanya menggelengkan kepala mandengar penuturan teman kecilnya yang tidak pernah berubah itu. Dan sikap apa adanya Alenia itu lah yang membuat Rio senang berada di dekatnya.
Sebenarnya sejak kelas enam SD, Rio sudah menyukai Alenia. Namun karena saat itu mereka masih sangat kecil, rasa suka yang Rio rasakan mungkin sekedar cinta monyet yang akan hilang saat mereka tidak satu sekolah lagi. Nyatanya, saat Rio bertemu dengan Alenia pada pertandingan basket itu, ia menyadari bahwa ia masih menyimpan rasa suka yang dulu pernah ada di hatinya.
Bahkan bertambah, saat ia melihat sosok Alenia yang tetap sama, namun tumbuh menjadi gadis mengagumkan dan cantik. Walau kecantikannya tertutupi oleh sikapnya yang cuek dan serampangan.
Tak jauh dari tempat Alenia dan Rio menikmati makanannya, sesosok pria terus memperhatikan mereka. Pria itu tak lain adalah Deo. Deo baru saja selesai makan bersama Leon dan Raisa istrinya, juga putri kecil mereka Lila. Ia tak lepas
memandangi Alenia yang terlihat begitu akrab dengan Rio.
Menyaksikan gadis yang dikejarnya habis-habisan terlihat akrab dengan pria lain membuat rasa cemburu Deo timbul. Tanpa sadar Ia bangkit dan akan mendatangi meja mereka.
“De, mau kemana? Kita mau pulang nih,” suara Leon menyadarkan Deo.
“Mas sama Mbak Raisa duluan aja deh, aku masih ada urusan,” ucap Deo berjalan pergi meninggalkan Leon dan istrinya.
“Dasar, mau kemana sih dia?” tanya Leon penasaran.
“Udah deh, biarin aja. Mungkin Deo mau refreshing sejenak. Dia kan bosan berkutat dengan sekolah terus,” Raisa mengingatkan suaminya. Kemudian merekapun pergi dari tempat itu.
Saat tengah asyik bercerita tiba-tiba Alenia dan Rio dikejutkan dengan kehadiran makhluk yang sangat tidak diinginkan keberadaannya oleh Alenia.
“Hai Alenia?” sapa Deo dengan senyum mengembang sambil duduk di kursi di samping Alenia.
“Hah? Ngapain di sini?” tanya Alenia curiga.
“Kebetulan banget ya kita ketemu di sini?” Deo mengalihkan pembicaraan, “OH, kamu anak basket dari SMA CENDANA itu kan?” tanyanya pada Rio.
Rio yang tidak mengenal Deo pun hanya mengangguk dengan gurat kebingungan yang terpancar jelas di wajahnya.
“Udah ah, yuk cabut, suasananya udah mulai gak enak nih,” ajak Alenia sambil menggenggam tangan Rio. Dan O..ow.. Deo cemburu. Dengan cepat ia memotong kedekatan keduanya dan berdiri ditengah-tengah antara Alenia dan Rio, membuat Alenia semakin bingung dan pastinya kesal.
“Pak De apa-apaan sih?”
“Kalian mau kemana setelah ini? Gimana kalau kita bareng- bareng aja,” Deo mulai menyusun taktik untuk mengganggu kebersamaan mereka.
“Kamu mau kemana Len?” tanya Rio pada Alenia. Namun Alenia diam, ia bingung mau menjawab apa. Dan tanpa aba- aba, Deo menarik tangan Alenia, “Kita main Game saja,” sahut Deo dan menggiring Alenia menuju arena permainan diikuti Rio yang berjalan di belakang mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar