Alunan lagu Bring Me to Life milik Evanescene mengalun kuat di seantero kamar Alenia. Sambil sesekali ia ikut bernyanyi dan bergaya di depan cermin, entah itu dengan syal yang di ikat di kepala, di leher atau bahkan berdandan ala Hipster.
Malam itu Alenia memang tengah asyik membenahi kamarnya yang sudah satu minggu ia biarkan berantakan bak kapal karam. Sesekali ia berteriak mengikuti suara Amy Lee sang vokalis. Saat tengah berbenah tiba-tiba terdengar bunyi ‘Klik’ di kepala Alenia.
“Astaga...” pekik Alenia tiba-tiba, “Kalau dia adiknya Pak Leon, berarti... “. Dengan secepat kilat Alenia berlari menuruni tangga menuju ruang keluarga. Di sana sang mama sedang asyik menikmati tayangan sinetron yang menjadi agenda rutinnya.
“Mama...Mama... ..” teriak Alenia menghampiri sang Mama.
“Ehm.. ada apa sih Len, kok teriak-teriak gitu?” tanya Mama yang terkejut mendengar teriakan Alenia.
“Ma....Alenia mau pindah sekolah,” ucap Alenia seketika.
“Apa?” ucap Mama bingung sambil menatap Alenia. Alenia mengangguk pasti.
“Kenapa?”
“Pokoknya Alenia mau pindah Ma,”
“Ah kamu ini,” Mama kembali memfokuskan diri menonton sinetron.
“Mama.....” rengek Alenia yang tidak mendapat respon dari Mamanya.
“Ehm.. ada apa sih Len, kok teriak-teriak gitu?” tanya Mama yang terkejut mendengar teriakan Alenia.
“Ma....Alenia mau pindah sekolah,” ucap Alenia seketika.
“Apa?” ucap Mama bingung sambil menatap Alenia. Alenia mengangguk pasti.
“Kenapa?”
“Pokoknya Alenia mau pindah Ma,”
“Ah kamu ini,” Mama kembali memfokuskan diri menonton sinetron.
“Mama.....” rengek Alenia yang tidak mendapat respon dari Mamanya.
Alenia tidak dapat memejamkan mata. Ia masih memikirkan kenyataan yang baru saja terungkap. Deo adalah adik dari kepala sekolah. Artinya Deo juga punya wewenang penuh atas segala yang terjadi di sekolah. Jika seperti ini, keadaan tidak seimbang. Ia tidak akan mampu melawan anak dari pemilik sekolah. Bisa-bisa ia dikeluarkan dari sekolah.
Itu sebabnya ia minta dipindahkan. Antisipasi lebih dulu, daripada ia dikeluarkan dengan tidak hormat dari sekolah.
“Tapi, selama ini kan semua baik-baik aja, gak mungkin dong, dia ngeluarin gue dari sekolah,” gumam Alenia membesarkan hatinya.
“Tapi gimana kalo dia ngeluarin gue dari sekolah?!?!?” teriak Alenia selanjutnya sambil bergelung dengan selimut di atas kasurnya hingga tanpa sadar ia jatuh dari kasurnya. “Gubrak...”terd engar bunyi yang cukup keras. Alenia pun hanya bisa meringis sambil berteriak pelan, “Ah............ ”
“Tapi, selama ini kan semua baik-baik aja, gak mungkin dong, dia ngeluarin gue dari sekolah,” gumam Alenia membesarkan hatinya.
“Tapi gimana kalo dia ngeluarin gue dari sekolah?!?!?” teriak Alenia selanjutnya sambil bergelung dengan selimut di atas kasurnya hingga tanpa sadar ia jatuh dari kasurnya. “Gubrak...”terd
Pagi itu Alenia datang lebih pagi dari siapapun. Ia harus membersihkan ruang guru sebagai hukuman atas perbuatan isengnya pada Deo. Sambil sesekali bersenandung ria, ia terlihat menikmati hukumannya. Itulah yang membuat hidup Alenia tidak pernah membosankan. Ia tidak pernah memandang segala hal dari sisi negatif. Ia belajar untuk menikmati dan menghargai setiap detik dan setiap hal dalam hidupnya.
Iseng-iseng Alenia melihat-lihat beberapa meja guru. Saat ia tiba di meja Deo, dengan hati-hati Alenia memeriksa apa yang ada di meja gurunya tersebut. Ia menemukan beberapa lembar foto. Alenia pun meneliti satu persatu foto tersebut. Alenia menganga takjub melihat hasil foto itu. Foto- foto itu terlihat biasa namun karena diambil dengan teknik yang sangat profesional, hasilnya menjadi luar biasa. Tiba- tiba ia melihat sebuah foto yang tidak biasa.
“Apa-apaan ini?” gumam Alenia saat ia melihat foto dirinya ada diantara kumpulan foto-foto itu. Alenia memperhatikan foto dirinya. Di foto itu terlihat Alenia tengah tertawa lepas. Ia ingat kejadian itu. Saat itu mereka tengah berbenah untuk persiapan perayaan ulang tahun sekolah. Ia dan ketiga sahabatnya tengah bermain perang- perangan dengan sapu dan berbagai alat kebersihan lainnya.
Mereka sangat gembira, hingga tiba-tiba, Raka, teman sekelasnya terjatuh karena air yang mereka tumpahkan. Raka yang berbadan bak pesumo Jepang pun jatuh seperti buah nangka busuk membuat seisi kelas tertawa melihatnya, tak terkecuali Alenia yang saat itu tidak bisa menghentikan tawanya. Alenia pun menduga Deo pasti memotretnya saat kejadian itu. Alenia mendengar langkah-langkah mendekati ruang guru, iapun segera mengembalikan foto-foto itu pada tempatnya.
Setelah semua tugasnya selesai, ia kembali ke kelasnya. Di jalan menuju kelas, ia berpapasan dengan Deo. Alenia memperhatikan gurunya itu.
“Hei.. ada apa? Masih kesal dengan hukuman kamu?” tanya Deo saat Alenia tak berhenti menatapnya. Alenia menggeleng namun masih terus memandangi wajah Deo. Deo bingung melihat sikap Alenia yang tidak biasanya.
“Hei.. ada apa? Masih kesal dengan hukuman kamu?” tanya Deo saat Alenia tak berhenti menatapnya. Alenia menggeleng namun masih terus memandangi wajah Deo. Deo bingung melihat sikap Alenia yang tidak biasanya.
“Al,....” belum sempat Deo memanggilnya, Alenia sudah melengos pergi.
“Dasar cewek ajaib,” gumam Deo sambil tersenyum dan melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru.
“Dasar cewek ajaib,” gumam Deo sambil tersenyum dan melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru.
Sementara di dalam kelas Alenia masih memikirkan perihal fotonya yang ada pada Deo. Jangan-jangan apa yang dikatakan sahabat-sahabat nya itu benar, bahwa Deo menyukai dirinya. Kalau dipikir-pikir memang aneh juga. Diantara ratusan orang siswi SMA BAHAGIA, kenapa hanya Alenia yang selalu menjadi korban kejahilan Deo terlepas dari insiden botol aqua itu. Apa mungkin itu memang cara Deo untuk mendekati dirinya?
Dan satu hal yang masih mengganjal dipikiran Alenia adalah bagaimana cara Deo bisa sampai ke sekolah ini? Deo adik pak Leon, oke, benar. Tapi bagaimana mungkin Deo bisa masuk secara kebetulan ke sekolah ini tepat sehari setelah insiden botol aqua itu.
Bukan suatu kebetulan kan Deo tahu bahwa Alenia adalah murid SMA BAHAGIA? Jika tidak, bagaimana mungkin mereka bisa bertemu kembali. Seolah Deo telah merencanakan semuanya. Lalu darimana Deo tahu Alenia bersekolah di SMA ini? Pikirnya. Alenia benar-benar belum menyadari ada sesuatu yang hilang darinya.
“Apa benar dia suka sama gue?” gumam Alenia pelan,
“Ah...gak mungkin...gak mungkin...” ia menggelengkan kepala berusaha menyangkal ucapannya.
“Hoi... pagi-pagi udah geleng-geleng, kesambet lu?” Melati yang baru tiba mengagetkan Alenia.
“Ah...gak mungkin...gak mungkin...” ia menggelengkan kepala berusaha menyangkal ucapannya.
“Hoi... pagi-pagi udah geleng-geleng, kesambet lu?” Melati yang baru tiba mengagetkan Alenia.
“Mel, gue mau tanya nih,”
“Apaan?” balas Melati curiga, “Lu mau nyalin pr gue kan?” tebak Melati lagi.
“Enggak lah, dodol garut, gue mah ogah nyontek pr lu, yang ada salah semua,” balas Alenia sewot. “Gue mau nanya serius nih,”
“Apaan?” balas Melati curiga, “Lu mau nyalin pr gue kan?” tebak Melati lagi.
“Enggak lah, dodol garut, gue mah ogah nyontek pr lu, yang ada salah semua,” balas Alenia sewot. “Gue mau nanya serius nih,”
“Apaan sih Len, serius amat. Lu kebelet kawin?” Alenia menjitak kepala Melati gemas.
“Sakit, monyong...” maki Melati sambil memegangi kepalanya.
“Elu sih,” balas Alenia dengan tidak sabar, “Menurut lu, beneran gak sih kalo Pak Deo suka sama gue?”
“Sakit, monyong...” maki Melati sambil memegangi kepalanya.
“Elu sih,” balas Alenia dengan tidak sabar, “Menurut lu, beneran gak sih kalo Pak Deo suka sama gue?”
“Cie...udah mulai luluh nih, Lu suka ya sama Pak Deo?” tanya Melati dengan suara menggelegar membuat seisi kelas yang mulai ramai menoleh ke arah Alenia dan Melati.
“Suara lu jangan kekencengan.. goblok..”desis Alenia sambil menutup mulut Melati dengan tangannya. Melati menyipitkan matanya menatap curiga pada Alenia membuat Alenia salah tingkah.
“Aduh, nih anak, gue kan cuma nanya, ya gak mungkinlah gue suka Pak Deo, secara gue sama dia itu musuh bebuyutan,” jelas Alenia panjang lebar namun Melati hanya mengulum senyum.
“Ah.. terserah lu deh...” teriak Alenia frustrasi dan beranjak pergi meninggalkan Melati yang tersenyum geli melihat ulahnya.
“Ops... kayanya ada yang mulai jatuh cinta nih,” gumam Melati sambil tersenyum penuh arti.
“Ah.. terserah lu deh...” teriak Alenia frustrasi dan beranjak pergi meninggalkan Melati yang tersenyum geli melihat ulahnya.
“Ops... kayanya ada yang mulai jatuh cinta nih,” gumam Melati sambil tersenyum penuh arti.
Rupanya sejak tadi, Rere mendengarkan pembicaraan dua sahabat itu. Ia terlihat geram begitu menyadari bahwa Alenia kelihatannya mulai tertarik pada Deo. Bukannya Rere tidak tahu, bahwa Deo memang punya perasaan yang lebih daripada seorang guru terhadap muridnya.
Namun tetap saja hal itu membuat Rere marah. Ia tidak rela jika cewek aneh dan
serampangan seperti Alenia menjadi pacar Deo, guru mereka yang super kece dan populer. Alenia memang selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang di sekelilingnya. Itulah yang membuat Rere bertambah tidak suka padanya. Apa yang Rere inginkan, selalu Alenia dapatkan.
serampangan seperti Alenia menjadi pacar Deo, guru mereka yang super kece dan populer. Alenia memang selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang di sekelilingnya. Itulah yang membuat Rere bertambah tidak suka padanya. Apa yang Rere inginkan, selalu Alenia dapatkan.
Alenia memang tidak pintar dalam hal akademik, tapi gadis itu selalu mampu membuat orang-orang menyukainya, termasuk Deo.
“Gue gak rela kalo sampe tuh cewek aneh jadi pacarnya Pak Deo,” desis Rere menahan rasa kesalnya.
“Gue gak rela kalo sampe tuh cewek aneh jadi pacarnya Pak Deo,” desis Rere menahan rasa kesalnya.
Alenia sendiri kelihatannya tidak mau terlalu memusingkan hal itu. Buktinya ia sudah bisa melupakan perihal urusan cinta itu. Ia memang orang yang seperti itu, tidak mau memikirkan hal-hal yang hanya membuatnya sakit kepala. Jadi ia memutuskan, jika Deo memang menyukainya, ya biarkan saja.
Toh tidak ada undang-undang yang melarang seseorang menyukai orang lain. Dan saat ini ia tengah menikmati sarapan paginya di kantin sekolah ditemani banyolan-banyol an teman-temannya yang tidak ada habisnya. Mereka menikmati sarapan sambil tertawa lepas mendengar cerita- cerita aneh bin ajaib masing-masing anak. Hingga terdengar bel berbunyi, membuat anak-anak itu lari berhamburan meninggalkan kantin.
“Hei..........i ni makanannya siapa yang bayar?” teriak Bu kantin memanggil anak-anak nakal itu.
“Dino.......... .............” teriak mereka serempak, karena memang kura-kura satu itu yang masih terlihat menikmati makanannya. Mendengar namanya disebut, sontak Dino mengalihkan pandangan menatap Ibu kantin.
“Dino..........
“Apa ?!?” pekik Dino bingung, “ Wah... sialan tuh anak-anak..” maki Dino sambil mengeluarkan dompetnya untuk membayar. Ibu kantin hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anak itu. walau terkenal nakal, tapi anak-anak itu sangat setia kawan.
Buktinya, bagaimanapun ulah iseng teman-temannya, yang namanya disebutkan untuk membayar tetap saja rela mengeluarkan uangnya untuk membayari semua makanan teman-temannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar