Kamis, 10 September 2015

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Aqua

♥ Kejutan Pertama ♥


Apa yang Alenia takutkan akhirnya menjadi kenyataan. Di minggu kedua, Deo memulai aksi balas dendamnya. Materi pelajaran yang diajarkan Deo adalah Voli. Deo
menggiring semua muridnya ke lapangan di tengah hari yang cukup terik itu. Jika biasanya para siswi akan melancarkan aksi protes, namun kali ini mereka dengan
senang hati keluar ke tengah lapangan. Tentu saja hal itu membuat para siswa geleng-geleng kepala.



“Dasar cewek, pantang lihat cowok cakep,” cibir Diko saat berada di tengah lapangan. Mereka memperhatikan bagaimana anak-anak cewek begitu tergila-gila dan selalu
ingin menempel pada Deo. Tentu saja Alenia adalah pengecualian. Ia hanya mendengus kesal sambil berjalan menuju barisan.


“Baiklah, hari ini kita akan mempelajari teknik permainan voli. Saya akan mengajari kalian bagaimana cara Servis yang benar,” jelas Deo sambil mengambil sebuah bola di troley yang penuh dengan bola voli dan mempraktekkan caranya. Semua anak
berdecak kagum melihat aksi Deo, kecuali Alenia. Ia memutar bola matanya pertanda jengkel, “Dasar tukang pamer,” cibir Alenia pelan.



“Oh ya, dan saya ingin minta satu orang untuk jadi sukarelawan mengumpulkan bola-bola yang di lemparkan temannya,” tambah Deo sambil tersenyum manis penuh arti ke arah Alenia, membuat gadis itu membelalak kaget, “Alenia.. please..”


What!?! Apa-apaan itu guru, kenapa gue? Pikir Alenia terkejut. Begitu nama Alenia disebut semua anak memandang padanya. “Kenapa saya?” tanya Alenia kesal.
“Ini suatu kehormatan Alenia,kamu membantu teman-teman kamu,” balas Deo dengan tatapan tajam yang mengisyaratkan ia tidak ingin dibantah.


Dengan pasrah tiada daya Alenia mengikuti perintah Deo. Benar-benar manusia kejam, maki Alenia dalam hati. Bisa- bisanya dia memerintahkan Alenia menjadi pengumpul bola di tengah terik matahari seperti ini. Dasar Monster, maki Alenia
lagi. Berkali-kali Alenia memperhatikan Deo begitu senang mengajari murid-murid perempuan sementara ia harus berlari kesana-kemari mengejar bola yang berhamburan di seantero lapangan.


Berkali-kali Alenia berniat melemparkan bola voli ke kepala Deo, namun tentu saja itu hanya keinginannya. Kenyataannya ia harus pasrah dengan nasibnya. “Semangat Alenia!!!” teriak Deo dari seberang lapangan saat mereka tengah beristirahat sementara Alenia masih harus mengumpulkan bolanya.


“Dasar Monster....” gumam Alenia sambil melemparkan tatapan mautnya pada Deo membuat Deo tertawa. Minggu berikutnya tak kalah ganas. Kali ini Deo meminta
Alenia menjadi objek penderita untuk mata pelajaran Atletik. Berkali-kali Alenia diminta berlari bolak-balik dari satu garis ke garis yang lain. Memintanya mengulang lagi untuk memastikan para murid tahu bagaimana start yang harus
digunakan. Alenia benar-benar dongkol setengah mati.


Seandainya mereka tidak berada di sekolah, mungkin Alenia sudah melayangkan jurus cakar mautnya ke wajah Deo yang, ehm.. oke, Alenia mengakui kalau Deo memang tampan, super malah. Tapi tetap saja ketampanan Deo tidak bisa menghapus nilai minus dari sikapnya yang sengaja dibuat menjengkelkan untuk Alenia.

“Lu baik-baik aja kan Len?” tanya Melati sambil menyerahkan sebotol air mineral pada Alenia. “Apa? Lu tanya apa gue baik-baik aja? Halloooo.. Melati, buka mata sipit lu selebar-lebarnya, gue sekarat Mel, sekarat...” balas Alenia dengan gaya drama Quennya membuat Sari dan Nina yang duduk di samping Alenia tersenyum geli.


“Mending gue lompat ke kolam deh daripada di suruh lari bolak-balik kaya tadi. Gak lihat apa, kalo keringat gue dikumpulin, bisa buat nyiram satu hektar sawah kali..”
sambung Alenia dengan suara menggebu-gebu. “Eh, jangan ke kolam deh, mati dong gue. Gue kan gak bisa berenang,” ralat Alenia membuat tawa ketiga sahabatnya seketika meledak.


“Dasar Nenek pikun lu..” ledek Melati sambil melempar handuk yang ia pakai untuk mengelap keringatnya ke wajah Alenia, membuat Alenia terpekik, “Melati... handuk lu bau asem.........” dan dimulailah aksi kejar-kejaran antara Alenia dan Melati hingga membuat anak-anak pada tertawa. Itulah Alenia, ia selalu apa adanya. Tidak pernah berusaha untuk mengubah dirinya menjadi sosok yang lain hanya untuk diterima orang- orang. Dan ia bangga dengan keanehan dan sifatnya yang memang terkadang agak tidak terkendali.


Alunan musik jazz yang ringan terdengar memenuhi ruangan kafe bergaya minimalis itu. Di sudut ruangan tampak Deo tengah menikmati minumannya sambil menunggu kedatangan teman-temannya. Sudah lama ia tidak berkumpul bersama teman-temannya. Sejak sibuk mengejar-ngejar anak SMA bernama Alenia Putri, Deo memang banyak menghabiskan waktunya memikirkan cara untuk membuat Alenia jengkel dan
tertarik padanya. Namun sejauh ini yang lebih mendominasi adalah rasa jengkel Alenia dibandingkan dengan rasa tertariknya. Hal itu tentu saja mengusik Deo. Ia yang dikenal sebagai penakluk hati wanita, masa tidak bisa menaklukkan
gadis ABG super aneh itu? Karena itu Deo mati-matian berusaha untuk membuat gadis itu tertarik padanya. Gila memang, tapi Deo suka.


“Hei... Mr. Busy.. apa kabar?” sapa Delon menepuk pundak Deo begitu tiba di kafe, kedatangan Delon disusul beberapa temannya yang lain.
“Hei, aku baik. Kalian apa kabar?” Deo balik bertanya sambil tersenyum senang melihat kedatangan teman-temannya.
“Great.. udah lama kita gak hang out bareng begini..” balas Delon.
“Sekarang lagi sibuk apa De?” tanya Prilly, wanita yang satu- satunya ikut nongkrong bersama mereka.
“Nothing, just enjoy my life ...”
“Eh, De, perusahaanku dapat proyek baru nih, aku mau kamu yang jadi fotografer buat proyek ini gimana?” pinta Delon membuat Deo berpikir sejenak.


Sebelum menjadi guru magang, Deo memang berprofesi sebagai fotografer freelance. Ia kuliah di bidang Sastra, namun passionnya adalah fotografi. Sejak SMP Deo memang senang dengan fotografi. Bahkan karena kemampuannya yang memang sudah diakui oleh banyak orang, bahkan oleh para fotografer yang sudah punya nama besar, Deo kerap mendapat tawaran untuk menangani berbagai proyek ataupun
event besar. Meski dilahirkan di keluarga bisnis, namun keluarga Deo tidak pernah menentang kecintaannya pada fotografi. Karena mereka juga tahu tidak ada gunanya
berdebat dengan pemberontak seperti Deo.


“Hmm... aku pikir-pikir dulu deh,” balas Deo, setelah mempertimbangkan sejenak. Bukan karena Deo tidak tertarik, apalagi ini adalah proyek sahabatnya, Delon. Namun ada proyek yang lebih besar yang harus ditangani Deo saat ini. Apalagi kalau bukan proyek menaklukkan si keras kepala Alenia.


“Ok, deh. Tapi jangan kelamaan. Aku mau proyek ini kamu yang tangani,” pinta Delon sungguh-sungguh. Deo pun mengangguk setuju. Malam itu mereka habiskan dengan bercerita panjang lebar. Bahkan mengenang masa-masa sekolah dan kenakalan yang pernah mereka lakukan.

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Aqua

♥Kejutan ♥


Suasana pagi itu di SMA BAHAGIA terlihat seperti biasa. Hiruk pikuk para siswa yang bercengkerama ataupun bermain basket di lapangan sekolah. Tak terkecuali Alenia yang sibuk menjahili Sari dan Melati, sementara Nina tidak berhenti tertawa melihat kelakuan tiga sahabatnya yang seperti anak SD.


Memang tidak ada habisnya bagi Alenia untuk berbuat yang aneh-aneh di sekolah. Alenia memang terkenal di seantero sekolah sebagai anak yang suka usil dan juga cantik. Hanya saja masih dalam batas kewajaran, jadi para guru bisa memaklumi
sikapnya. Walau tidak terlalu menonjol di akademik, namun Alenia di kenal sebagai anak yang supel dan selalu memberikan ide-ide kreatif untuk berbagai even yang
diadakan sekolah. Jadi tidak heran ia punya banyak teman, baik senior maupun junior di sekolah. Bahkan ia banyak memiliki teman dari sekolah lain.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas tepat. Suasana di kelas Alenia terdengar gaduh. Itu semua dikarenakan Pak Roni, guru olahraga mereka yang seharusnya mengajar belum menampakkan batang hidungnya. Jadilah mereka semua
seperti anak ayam yang dilepas keluar kandang. Ada yang bernyanyi, bergosip, bermain lempar kertas, sampai berdandan heboh layaknya seorang artis seperti yang dilakukan Rere and the Genk.


Rere, ya, anak satu itu memang yang paling menyebalkan di kelas Alenia. Selain gayanya yang genit dan selangit, ia juga paling sering mencari masalah, terutama
dengan Alenia. Berkali-kali Narin terlibat pertengkaran dengannya. Alenia sendiri bingung, kenapa Rere selalu cari gara-gara dengannya.



Padahal Alenia bukan orang yang suka mencari ribut. Ia lebih senang berbuat jail, namun hanya sebatas pada teman-teman dekat dan teman yang bisa ia ajak
bercanda. Di tengah kegaduhan itu tiba-tiba Pak Ray, guru BK muncul. Pak Ray pun memberikan pengumuman yang membuat anak-anak tercengang.


“Karena satu dan lain hal, maka Pak Roni untuk sementara tidak akan mengajar mata pelajaran olahraga lagi. Beliau dipindah tugaskan ke sekolah milik yayasan yang ada di Bandung,”
“Yeah.............” teriak anak-anak seisi kelas dengan gembira membuat Pak Ray bertanya, “Kok kalian pada seneng gitu?”
“Bagus dong pak, akhirnya kita gak usah lihat tampang kecut keriput Pak Roni lagi,” jawab Dino disambut tawa anak-anak.



“Bener tu Pak,” timpal Renata, “Ngomong-ngomong guru penggantinya cakep gak Pak?”
“Heh..kalian ini, lihat saja nanti. Sebentar lagi guru barunya akan datang,” ucap Pak Ray kesal melihat tingkah anak-anak itu sambil berjalan keluar kelas.


Sepeninggal Pak Ray, suasana kembali meriah seperti sebelumnya. Alenia yang kumat usilnya menarik kuncir rambut Melati sehingga Melati harus berlari keliling kelas mengejarnya. Sementara itu di sudut sebelah, tempatnya Rere and the Genk bergosip ria, terdengar selentingan kabar mengenai guru baru itu.


“Guru barunya kece badai deh, gue tadi gak sengaja ketemu pas abis dari kantin,” celetuk Nayla, teman seperjuangan Rere.
“Masa sih??” timpal anak-anak yang lain.
“Entar kalian lihat aja deh, gue gak bo’ong,”

Dan tanpa disadari seseorang masuk ke dalam ruangan. Seketika anak-anak berhamburan menuju kursi masing- masing. Begitu juga Alenia dan Melati yang berlari ketakutan melihat kedatangan guru baru itu. Sampai-sampai kaki Alenia
tersandung meja Rico, teman yang duduk dua bangku di depan Alenia. Kontan seisi kelas tertawa melihat Alenia. Bahkan sang guru baru di depan kelas pun berusaha menahan tawanya.


“Co, meja lu resek,” maki Alenia kesal
“Yeah, situ yang petakilan,” balas Rico.
“Selamat pagi menjelang siang, semuanya. Perkenalkan Saya Deo Ananta, guru olahraga kalian yang baru,” ucap Deo memperkenalkan diri saat kelas mulai tenang. Seisi kelas membelalakkan mata menatap Deo. Tidak menyangka mereka
mendapatkan guru muda yang luar biasa keren, yang membuat anak-anak perempuan terpekik histeris, tapi tidak dengan anak-anak lelaki, mereka merasa kalah saing.


“Pagi Pak Ananta...................”teriak anak-anak perempuan penuh semangat.
“Bener kan gue bilang, gurunya kece badai,” gumam Nayla pada teman-temannya yang dibalas dengan anggukan setuju.
“Cukup panggil saya Pak Deo,” pinta Deo.
“Baik, Pak Deo.......”



Deo tersenyum mendengar sambutan meriah dari para muridnya. Namun ada seseorang di kursi belakang yang terbelalak kaget begitu melihat Deo, dialah Alenia. Topan badai, demi seisi jagat raya, mimpi apa ia sampai harus bertemu lagi dengan korban kekerasan tendangannya, pikir Alenia.


Padahal ia sudah menganggap kejadian kemarin siang adalah mimpi buruk yang sudah ia lupakan. Namun kenyataan berkata lain, cowok yang bermain kucing-kucingan dengannya, berdiri di depan matanya dengan senyum sumringah. Berkali-
kali Alenia mengedipkan matanya seperti orang kelilipan untuk meyakinkan diri bahwa itu hanya mimpi, namun tetap saja sosok yang ada di depannya tidak menghilang.


Untuk menambah keyakinannya, ia bahkan rela mencubit kedua pipinya dengan sekerasnya hingga membuatnya menjerit kesakitan.
“Auch...” jerit Alenia membuat semua mata memandanngnya heran, “beneran.. gak mimpi,” Deo semakin tersenyum lebar melihat ulah Alenia. Perlahan- lahan Alenia memerosotkan tubuhnya semakin rendah di kursinya untuk menghindari tatapan Deo.


Namun tetap saja dengan tubuhnya yang tinggi semampai Deo masih bisa
melihat gadis itu yang terus menunduk ketakutan. “Lu kenapa Len?” tanya Hani yang melihat keanehan tingkah Alenia di sela-sela acara perkenalan mereka dengan guru
barunya. Deo memang sengaja membebaskan pelajaran hari itu untuk lebih mengenal murid-muridnya.


“Saat ini gue rasannya pengen banget di telan bumi, terlempar jauh ke dunia lain, atau ke antariksa sekalian deh,” gumamnya membuat Melati mengernyitkan dahi.
“Ngomong apa sih lu?”
“Ya Allah, apa ini yang namanya karma, kalo gini jadinya kemarin gue gak bakal kabur deh, gue bakal minta maaf aja,” gumam Alenia dalam hati.



Tapi kembali lagi, pikiran Alenia yang lain berbisik di kepalanya, “Kenapa harus minta maaf, bahkan dia lebih kejam, ngatain kamu kuli panggul. Kalau memang
mau perang, ya perang aja kenapa harus takut, memang apa yang bisa dilakukan itu cowok di sekolah,”. Alenia memang terkadang agak aneh. Jalan pkirannya tidak pernah satu arah, selalu bercabang.


Itulah yang terkadang membuat orang- orang di sekelilingnya bertanya-tanya tentang kepribadiannya. Bahkan mamanya sempat menyimpulkan kalau anak semata
wayangnya itu mengidap Autisme. Namun Alenia tetap cuek.



Apa yang salah dengan pikirannya, selama tidak mengusik orang lain. Dan kali ini Alenia tersenyum senang. Ia tidak takut. Ok, pak Deo, anda ingin perang, saya siap, batin Alenia penuh keyakinan. Dan di saat ia berkutat dengan pikirannya, ia tidak menyadari bahwa berkali-kali Deo mengarahkan pandangan padanya. Deo penasaran apa yang akan Alenia lakukan selanjutnya.


Apakah gadis itu akan meminta maaf ataukah ia akan tetap menunjukkan nyalinya yang kuat itu, yang membuat Deo kagum sekaligus penasaran. “Let’s see Alenia, the game will begin....” Deo tersenyum penuh arti menatap Alenia yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Aqua

♥ Hari Pembalasan ♥


“Kamu benar mau magang di sekolah?” tanya Leon pada Deo saat ia menyampaikan keinginannya. Leon menatap tak percaya pada adik semata wayangnya itu. Benar-benar sulit dipercaya. Deo, si pembangkang nomor satu dikeluarganya yang sejak dulu diminta ikut membantu mengelola aset keluarga dan selalu menolak, tiba-tiba saja mengajukan diri menjadi guru di sekolah mereka.


“Kamu baik-baik aja kan? Kamu gak lagi sakit kan?” tanya Leon sekali lagi.
“Kak, aku baik-baik aja. Udah deh, gak usah tanya kenapa, pokoknya aku mau ngajar di SMA BAHAGIA, cuma sementara aja kok Kak. Aku lagi bosan, dan gak ada kegiatan,”
jelas Deo panjang lebar semakin membuat Leon bingung.


“Kak, boleh gak?”
“Oke... tapi jangan bikin ulah,” akhirnya Leon setuju, “Kapan kamu mau mulai ngajar?”
“Besok,” dan seketika Leon menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke mulutnya hingga membuat Deo tertawa.

“Gak salah Yo?”
“Yup... gak salah lagi,” ucap Deo sambil berjalan pergi ke kamarnya meninggalkan Leon yang masih tak percaya dengan apa yang baru dikatakan Deo.


Di dalam kamarnya Deo kembali memandangi nametag milik Alenia. Berkali-kali ia tersenyum mengingat betapa konyolnya apa yang telah ia lakukan siang tadi. Bermain kucing dan tikus dengan seorang anak SMA. Namun baru kali ini ia merasa senang. Mendapatkan lawan yang cukup seimbang. Ia tidak menyangka, gadis kecil satu itu berhasil menarik perhatiannya. Deo tidak tahu apakah ia jatuh cinta atau
sekedar suka dan kagum pada sosok Alenia yang terlihat polos namun memiliki nyali yang luar biasa nekat.


“ALENIA PUTRI,” sekali lagi ia menggumamkan nama Alenia, “Kita lihat apa yang bakal kamu lakukan besok,”
“We are the champion my friend, and we’ll keep on fighting to the end...............” suara Alenia bergema di seantero kamar. Dengan gaya yang sok asik, Alenia bernyanyi bak Diva international dengan dandanan yang tidak karuan.


Kaos Hello kity favorit, celana tidur kotak-kotak, dan dasi yang dililit di kepala. Kamarnya pun terlihat masih berantakan. Sejak sore ia memang tidak berniat keluar dari kamar dan malah membongkar seisi kamar hanya untuk mencari syal birunya
yang sejak sebulan lalu tidak ia temukan, hingga akhirnya ia berhasil menemukannya di bawah tumpukan buku-bukunya.


“Alenia...” panggil sang mama sambil menggedor pintu kamar. Namun karena kerasnya suara di dalam kamar, Alenia tidak mendengar panggilan mamanya.
“Aleniaaaa...........” teriak mamanya lebih keras hingga akhirnya Alenia tersadar dan mengecilkan volume audio playernya.
“Ada apa sih Ma?” tanya Alenia melongokkan kepala dari balik pintu.

“Kamu gak mau makan malam?” tanya mamanya.
“Ehm.. gak deh, masih kenyang. Ntar kalo Alenia lapar, Alenia ambil sendiri,” balas Alenia sambil menutup pintunya namun dicegah oleh mama, “Eh...”
“Apaan lagi sih Ma?”
“Ini..” mama menunjukkan rok Alenia yang robek siang tadi,
“Kenapa ini?”


Alenia tersenyum semanis mungkin pada sang mama. Langsung saja mama tahu kalau Alenia pasti berbuat ulah yang aneh lagi.
“Ini kenapa?” tanya mama ingin tahu.
“Robek, hehehe..” jawab Alenia sambil tertawa cengengesan.
“Ya, tapi kenapa bisa robek Alenia?”


“Hehe..Itu, tadi Alenia dikejar anjing Ma, iya. Jadi Alenia naik ke atas pohon terus roknya robek,”. Mama hanya geleng –geleng kepala mendengar penjelasan Alenia. Anak perempuan semata wayangnya yang satu itu memang tidak ada habisnya. Sejak
kecil, ada saja ulah yang dilakukan Alenia.


Memang masih dalam batas kewajaran. Namun tetap saja membuat mama
dan papanya tidak berdaya dengan segala ulahnya. Mamanya hanya bisa pasrah dan berdoa agar putrinya itu bisa menjadi anak perempuan yang benar-benar perempuan tanpa embel- embel aneh di belakangnya.

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Aqua

♥ Menunggu Pembalasan ♥

Setelah memastikan keadaan sudah aman terkendali, Alenia menarik nafas lega. Akhirnya ia lepas dari cengkeraman cowok sadis itu, dengan wajah gembira Alenia berdiri dari tempat persembunyiaannya dan berjalan menuju pintu gerbang tempat ia masuk tadi. Rupanya sejak tadi Alenia bersembunyi di semak - semak di depan rumah sesorang yang ia lihat tak ada penghuninya. Pintu gerbang rumah itu dibiarkan terbuka, maka tanpa ragu Alenia masuk ke dalam. Saat akan selangkah lagi
menuju pintu gerbang, Alenia dikejutkan dengan gonggongan yang tak asing di telinganya.


Dengan perlahan Alenia menolehkan kepala ke arah suara berasal. Dan seketika kakinya lemas tak berdaya. Seekor anjing Herder hitam sudah menggonggong marah padanya. Anjing itu mungkin tahu ada tamu tak di undang yang menyelinap ke rumah. Wajah Alenia langsung pucat pasi. Dari sekian banyak hal yang ditakutinya, anjing adalah salah satunya. Apalagi anjing yang satu ini sudah menampakkan
taring-taringnya seolah siap mencabik-cabik tubuh Alenia. Berkali-kali Alenia berdoa di dalam hati agar anjing itu tidak menyergapnya.


“Ya Allah, apa ini balasan buat gue?” gumam Alenia ketakutan. Alenia mencoba melangkah dengan perlahan-lahan, namun pandangan mata anjing itu mengikuti setiap gerak-geriknya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, sekilas Alenia melihat ada
sebuah pohon jambu yang tidak terlalu besar namun cukup tinggi. Tanpa pikir panjang lagi, Alenia berlari menuju pohon jambu itu. Dan dengan keahliannya dalam hal panjat memanjat, akhirnya Alenia berhasil sampai di dahan yang cukup tinggi walaupun ia harus menerima konsekuensinya.



Bagian belakang rok sekolah Alenia robek dengan suksesnya. Tapi ancaman belum berakhir, anjing galak itu masih terus menggonggong dengan nyaringnya di bawah pohon, membuat Alenia semakin ketakutan. “Aduh... nih anjing, diem dong,” pekik Alenia sambil berusaha mengusir anjing galak itu pergi, “Hus..hus...”


Mendengar suara gaduh di luar rumahnya, pemilik rumah akhirnya keluar. Betapa terkejutnya ia saat melihat seorang gadis dengan seragam SMA tengah bertengger bak ayam jago di atas pohon jambu sambil berusaha mengusir anjing yang
terus menggonggong di bawahnya.


“Hei, kamu ngapain di situ?” tanya pemilik rumah. “Anu Om, saya gak sengaja numpang sembunyi, eh, tahunya si Bleki nyebelin ini gonggongin saya terus,” teriak Alenia dari atas pohon sambil terus berusaha mengusir si anjing. Pemilik rumah hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Alenia.

“Om, jangan diem aja, anjingnya diusir dong om, dikurung kek, diiket tali kek, apa aja deh om, saya takut nih. Jantung saya hampir copot,” pinta Alenia pada pemilik anjing.
“Bizzy... come here....” perintah si pemilik rumah, dan anjing galak itu dengan patuhnya menurut. Alenia menghela nafas lega. “Kamu bisa turun sekarang, lain kali jangan masuk rumah orang sembarangan,” cibir pemilik rumah membuat Alenia malu. Alenia pun melompat turun dari atas pohon.


Namun naas bagi Alenia ia mendarat dengan kurang sukses. Bokongnya menyentuh tanah lebih dulu. Alenia meringis kesakitan membuat pemilik rumah menggeleng keheranan. Seketika Alenia berdiri menahan malu, namun tiba-tiba, Upss, Alenia sadar bahwa roknya robek. Dengan tersenyum malu, Alenia menutupi roknya yang robek dengan tas sekolah dan berjalan mundur menuju pintu gerbang sambil terus
tersenyum ke arah pemilik rumah.



“Dasar anak aneh...” pikir si pemilik rumah sembari kembali masuk ke rumahnya.
Dengan perasaan marah Alenia berjalan ke rumahnya. Hari ini benar- benar hari yang sial. Ini semua pasti karena cowok nyebelin itu, pikir Alenia. Kalau saja ia tidak mengejar Alenia, semua ini pasti tidak akan terjadi. Namun pikiran Alenia yang lain
mengingatkan, ini juga kesalahannya. Jika saja ia tidak menendang botol aqua itu, insiden gila ini tidak akan terjadi.



Akhirnya Alenia berdamai dengan dirinya sendiri dan menganggap, bahwa ini semua hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir besok. Tanpa ia sadari ada seseorang di tempat lain yang sudah menyiapkan kejutan besar untuknya.

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Aqua


♥ Awal Pertemuan ♥ Mengejar Cinta Sejati ♥


Cuaca siang itu benar-benar panas. Alenia berjalan seorang diri menuju rumahnya. Berkali-kali ia menyeka keringat di dahinya. Tadinya ia akan ikut bersama dengan
teman-temannya untuk mencicipi kue di cafe yang baru saja di buka, yang tak jauh dari sekolahnya. Namun rencana itu harus gagal karena mood Alenia menjadi sangat kacau. Ini semua karena si resek Rere, maki Alenia kesal. Jika saja Rere tidak memulai pertengkaran, maka hal itu tidak akan terjadi.


Ia tidak akan dihukum membersihkan Kamar Mandi Sekolah bersama Rere, dan moodnya tidak akan sekacau ini. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah botol aqua di pinggir jalan. Dengan segenap kekuatan untuk melampiaskan rasa kesalnya Alenia menendang botol aqua itu sambil berteriak,

“Dasar cewek nyebelin!”
“Plakk...” botol aqua yang ditendang Alenia mendarat tepat di kepala seorang cowok yang baru saja keluar dari sebuah mobil.
“Auch...” teriak Deo sambil memegangi kepalanya. Alenia menajamkan pandangannya.
“Mati gue!” pekik Alenia ketakutan.

Deo memungut botol aqua yang sudah menghantam kepalanya dengan sukses dan membuat kepalanya sakit. Tak butuh waktu lama, ia sudah menemukan pelaku kejahatan yang dengan ganas sudah melukai kepalanya. Ia memandangi
Alenia dengan wajah marah yang membuat Alenia tak berkutik di tempatnya berdiri. Dengan langkah tegas, Deo mendatangi Alenia.

“Aduh, beneran tamat riwayat gue,” teriak Alenia di dalam hatinya. Berbagai alasan mulai muncul di kepala Alenia. Minta maaf, jangan mengaku, tetap diam, pura-pura gak tahu, tapi tak ada satupun yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan diri.
Iapun makin panik melihat wajah marah Deo semakin dekat padanya.


Begitu berada dihadapan Alenia, sejenak Deo terpaku. Ia memandangi wajah polos anak SMA yang ada di depannya itu. Entah mengapa ada getaran aneh di dadanya saat memandangi Alenia. Cinta pada pandangan pertama? Hah! Hal yang tidak pernah dipercayainya, namun sepertinya sekarang, itu terjadi padanya.

Sifat jailnya tiba-tiba saja muncul. Deo ingin membuat gadis ini takut dan membuatnya meminta maaf. Agar ia bisa lebih mengenal Alenia.

“Heh,, kamu kan yang nendang botol aqua ini?” tuduh Deo dengan nada yang sengaja dibuat seram.
“E..enggak kok,” Alenia mencoba menyangkal.
“Gak usah bohong, gak ada orang lain lagi yang lewat sini kecuali kamu,”
“Ah, masa.. kamu salah orang kali,”
“Idih, udah salah, ngeles lagi. Ngaku aja, kamu kan yang lempar botol ini?” bentak Deo membuat hati Alenia menciut.


Alenia memandangi wajah marah Deo kemudian bergumam pelan, “Siapa suruh keluar mobil saat gue nendang botol itu,”
“Apa?” teriak Deo yang ternyata mendengar gumaman tak jelas Alenia. Cepat-cepat Alenia menggeleng.
“Wah, kecil-kecil tenaga kamu kuat juga ya, kayak kuli panggul,” ejeknya membuat Alenia membelakkan mata.
“Apa? Kuli panggul? Eh, kalo ngomong tu dijaga ya!” bentak Alenia sewot.
“Wah, berani kamu ya, udah salah nyolot lagi,”
“Iya, gue yang nendang botol itu, terus loe mau apa?” balas Alenia dengan suara menggelegar membuat Deo berdecak kagum.
“Bagus, kalau tahu salah, berarti kamu tahu apa yang mesti kamu lakukan, ya kan?”
Alenia menatap garang pada musuh barunya itu.


Tadinya ia berpikir akan minta maaf, namun mendengar ejekan Deo yang mengatainya sebagai kuli panggul, harga diri Alenia sebagai cewek cantik dan lugu merasa di injak-injak. Apa? Kuli panggul? Halo.. ada orang gak sih, tu cowok buta gak sih? Masa cewek secantik Alenia dikatain kuli panggul, jatuh pasaran Alenia.


Mendapat tatapan garang dari anak SMA yang ada di depannya membuat Deo tersenyum. Berani juga anak ini, batinnya memuji keberanian Alenia.
“Hah.. lu mau gue ngucapin kata... “ Alenia sengaja menggantung ucapannya, membuat cowok yang ada dihadapannya menaikkan sebelah alis menunggu ucapan Alenia selanjutnya.
“Jangan harap...” teriak Alenia dan segera mengambil langkah seribu.
“Hei...” teriak Deo yang menyadari ulah Alenia sambil berlari mengejarnya.
“Aaaaaa.........” teriak Aleni menyadari Deo yang ternyata berlari mengejarnya dan tidak berniat melepaskannya.
“Berhenti.............” teriak Deo lagi dan dibalas dengan teriakan yang tak kalah kuat dari Aleni, ”Ga Mau....”


Terjadilah adegan kejar-kejaran layaknya film action. Beberapa kali Alenia hampir tertangkap. Untunglah arena permainan adalah wilayah kekuasaan Alenia, jadi ia tahu jalan mana yang aman untuk dilalui dan tempat mana yang bisa ia gunakan
untuk bersembunyi. Hampir setengah jam sudah mereka terus bermain kucing dan tikus. Dari balik semak, Alenia memperhatikan Deo yang terus celingak-celinguk mencari keberadaannya. Alenia tersenyum puas melihat dirinya berhasil melarikan diri dari mangsanya.

“Huh..huh...” Deo mendesah kelelahan setelah bermain kucing-kucingan dengan Alenia. “Gila, anak itu larinya kencang juga,” Merasa bahwa ia tidak akan menemukan Alenia, Deo pun kembali ke tempat dimana mobilnya terparkir. Saat tengah berjalan, tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu. Deo melihat ke bawah kakinya dan menemukan  nametag. Deo pun memungut gantungan itu dan membaca tulisan yang ada di nametag itu, “ALENIA PUTRI, SMA BAHAGIA,”. Seketika otak Deo bekerja. Tidak salah
lagi, kartu ini pasti milik anak SMA yang ia kejar, pikir Deo.


Rupanya saat tengah berkejar-kejaran tadi, nametag itu terlepas dari baju Alenia, tanpa ia sadari. Deo pun tersenyum penuh kemenangan.
“Alenia Putri, tunggu pembalasanku.....” gumam Deo sambil menggenggam nametag Alenia

Senin, 07 September 2015

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Minum

Prolog

Cinta bisa datang darimana saja. Bahkan dari sebuah botol aqua yang menyebabkan petaka. Paling tidak itulah yang dialami Deo Ananta, fotografer freelance yang tiba-tiba memutuskan menjadi guru magang hanya demi mengejar cinta seorang
gadis SMA bernama Alenia Putri.

Tendangan dahsyat botol aqua Alenia yang menghantam kepalanya ternyata juga menghantam hatinya. Namun menaklukkan gadis itu tidak semudah melemparkan botol aqua. Deo harus mengerahkan semua usahanya untuk membuat gadis jail dan keras kepala itu jatuh cinta padanya.

Tapi seperti pepatah juga mengatakan, tak ada gunung yang tak dapat di daki, Deo pun akhirnya mampu menaklukkan hati gadis keras kepala itu, walau harus memulainya dengan berbagai taktik dan siasat yang membuat gadis itu jengkel setengah mati.

NB : Hai.. Salam kenal ya.. Selamat menikmati Cerpen Karya ku, kalo ada masukan silahkan tinggalkan comment. Comment kalian membantuku menjadi lebih baik. :-)
THANKS