Kamis, 10 September 2015

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Aqua


♥ Awal Pertemuan ♥ Mengejar Cinta Sejati ♥


Cuaca siang itu benar-benar panas. Alenia berjalan seorang diri menuju rumahnya. Berkali-kali ia menyeka keringat di dahinya. Tadinya ia akan ikut bersama dengan
teman-temannya untuk mencicipi kue di cafe yang baru saja di buka, yang tak jauh dari sekolahnya. Namun rencana itu harus gagal karena mood Alenia menjadi sangat kacau. Ini semua karena si resek Rere, maki Alenia kesal. Jika saja Rere tidak memulai pertengkaran, maka hal itu tidak akan terjadi.


Ia tidak akan dihukum membersihkan Kamar Mandi Sekolah bersama Rere, dan moodnya tidak akan sekacau ini. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah botol aqua di pinggir jalan. Dengan segenap kekuatan untuk melampiaskan rasa kesalnya Alenia menendang botol aqua itu sambil berteriak,

“Dasar cewek nyebelin!”
“Plakk...” botol aqua yang ditendang Alenia mendarat tepat di kepala seorang cowok yang baru saja keluar dari sebuah mobil.
“Auch...” teriak Deo sambil memegangi kepalanya. Alenia menajamkan pandangannya.
“Mati gue!” pekik Alenia ketakutan.

Deo memungut botol aqua yang sudah menghantam kepalanya dengan sukses dan membuat kepalanya sakit. Tak butuh waktu lama, ia sudah menemukan pelaku kejahatan yang dengan ganas sudah melukai kepalanya. Ia memandangi
Alenia dengan wajah marah yang membuat Alenia tak berkutik di tempatnya berdiri. Dengan langkah tegas, Deo mendatangi Alenia.

“Aduh, beneran tamat riwayat gue,” teriak Alenia di dalam hatinya. Berbagai alasan mulai muncul di kepala Alenia. Minta maaf, jangan mengaku, tetap diam, pura-pura gak tahu, tapi tak ada satupun yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan diri.
Iapun makin panik melihat wajah marah Deo semakin dekat padanya.


Begitu berada dihadapan Alenia, sejenak Deo terpaku. Ia memandangi wajah polos anak SMA yang ada di depannya itu. Entah mengapa ada getaran aneh di dadanya saat memandangi Alenia. Cinta pada pandangan pertama? Hah! Hal yang tidak pernah dipercayainya, namun sepertinya sekarang, itu terjadi padanya.

Sifat jailnya tiba-tiba saja muncul. Deo ingin membuat gadis ini takut dan membuatnya meminta maaf. Agar ia bisa lebih mengenal Alenia.

“Heh,, kamu kan yang nendang botol aqua ini?” tuduh Deo dengan nada yang sengaja dibuat seram.
“E..enggak kok,” Alenia mencoba menyangkal.
“Gak usah bohong, gak ada orang lain lagi yang lewat sini kecuali kamu,”
“Ah, masa.. kamu salah orang kali,”
“Idih, udah salah, ngeles lagi. Ngaku aja, kamu kan yang lempar botol ini?” bentak Deo membuat hati Alenia menciut.


Alenia memandangi wajah marah Deo kemudian bergumam pelan, “Siapa suruh keluar mobil saat gue nendang botol itu,”
“Apa?” teriak Deo yang ternyata mendengar gumaman tak jelas Alenia. Cepat-cepat Alenia menggeleng.
“Wah, kecil-kecil tenaga kamu kuat juga ya, kayak kuli panggul,” ejeknya membuat Alenia membelakkan mata.
“Apa? Kuli panggul? Eh, kalo ngomong tu dijaga ya!” bentak Alenia sewot.
“Wah, berani kamu ya, udah salah nyolot lagi,”
“Iya, gue yang nendang botol itu, terus loe mau apa?” balas Alenia dengan suara menggelegar membuat Deo berdecak kagum.
“Bagus, kalau tahu salah, berarti kamu tahu apa yang mesti kamu lakukan, ya kan?”
Alenia menatap garang pada musuh barunya itu.


Tadinya ia berpikir akan minta maaf, namun mendengar ejekan Deo yang mengatainya sebagai kuli panggul, harga diri Alenia sebagai cewek cantik dan lugu merasa di injak-injak. Apa? Kuli panggul? Halo.. ada orang gak sih, tu cowok buta gak sih? Masa cewek secantik Alenia dikatain kuli panggul, jatuh pasaran Alenia.


Mendapat tatapan garang dari anak SMA yang ada di depannya membuat Deo tersenyum. Berani juga anak ini, batinnya memuji keberanian Alenia.
“Hah.. lu mau gue ngucapin kata... “ Alenia sengaja menggantung ucapannya, membuat cowok yang ada dihadapannya menaikkan sebelah alis menunggu ucapan Alenia selanjutnya.
“Jangan harap...” teriak Alenia dan segera mengambil langkah seribu.
“Hei...” teriak Deo yang menyadari ulah Alenia sambil berlari mengejarnya.
“Aaaaaa.........” teriak Aleni menyadari Deo yang ternyata berlari mengejarnya dan tidak berniat melepaskannya.
“Berhenti.............” teriak Deo lagi dan dibalas dengan teriakan yang tak kalah kuat dari Aleni, ”Ga Mau....”


Terjadilah adegan kejar-kejaran layaknya film action. Beberapa kali Alenia hampir tertangkap. Untunglah arena permainan adalah wilayah kekuasaan Alenia, jadi ia tahu jalan mana yang aman untuk dilalui dan tempat mana yang bisa ia gunakan
untuk bersembunyi. Hampir setengah jam sudah mereka terus bermain kucing dan tikus. Dari balik semak, Alenia memperhatikan Deo yang terus celingak-celinguk mencari keberadaannya. Alenia tersenyum puas melihat dirinya berhasil melarikan diri dari mangsanya.

“Huh..huh...” Deo mendesah kelelahan setelah bermain kucing-kucingan dengan Alenia. “Gila, anak itu larinya kencang juga,” Merasa bahwa ia tidak akan menemukan Alenia, Deo pun kembali ke tempat dimana mobilnya terparkir. Saat tengah berjalan, tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu. Deo melihat ke bawah kakinya dan menemukan  nametag. Deo pun memungut gantungan itu dan membaca tulisan yang ada di nametag itu, “ALENIA PUTRI, SMA BAHAGIA,”. Seketika otak Deo bekerja. Tidak salah
lagi, kartu ini pasti milik anak SMA yang ia kejar, pikir Deo.


Rupanya saat tengah berkejar-kejaran tadi, nametag itu terlepas dari baju Alenia, tanpa ia sadari. Deo pun tersenyum penuh kemenangan.
“Alenia Putri, tunggu pembalasanku.....” gumam Deo sambil menggenggam nametag Alenia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar