Kamis, 10 September 2015

Cinta Botol Aqua

Cinta Botol Aqua

♥ Hari Pembalasan ♥


“Kamu benar mau magang di sekolah?” tanya Leon pada Deo saat ia menyampaikan keinginannya. Leon menatap tak percaya pada adik semata wayangnya itu. Benar-benar sulit dipercaya. Deo, si pembangkang nomor satu dikeluarganya yang sejak dulu diminta ikut membantu mengelola aset keluarga dan selalu menolak, tiba-tiba saja mengajukan diri menjadi guru di sekolah mereka.


“Kamu baik-baik aja kan? Kamu gak lagi sakit kan?” tanya Leon sekali lagi.
“Kak, aku baik-baik aja. Udah deh, gak usah tanya kenapa, pokoknya aku mau ngajar di SMA BAHAGIA, cuma sementara aja kok Kak. Aku lagi bosan, dan gak ada kegiatan,”
jelas Deo panjang lebar semakin membuat Leon bingung.


“Kak, boleh gak?”
“Oke... tapi jangan bikin ulah,” akhirnya Leon setuju, “Kapan kamu mau mulai ngajar?”
“Besok,” dan seketika Leon menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke mulutnya hingga membuat Deo tertawa.

“Gak salah Yo?”
“Yup... gak salah lagi,” ucap Deo sambil berjalan pergi ke kamarnya meninggalkan Leon yang masih tak percaya dengan apa yang baru dikatakan Deo.


Di dalam kamarnya Deo kembali memandangi nametag milik Alenia. Berkali-kali ia tersenyum mengingat betapa konyolnya apa yang telah ia lakukan siang tadi. Bermain kucing dan tikus dengan seorang anak SMA. Namun baru kali ini ia merasa senang. Mendapatkan lawan yang cukup seimbang. Ia tidak menyangka, gadis kecil satu itu berhasil menarik perhatiannya. Deo tidak tahu apakah ia jatuh cinta atau
sekedar suka dan kagum pada sosok Alenia yang terlihat polos namun memiliki nyali yang luar biasa nekat.


“ALENIA PUTRI,” sekali lagi ia menggumamkan nama Alenia, “Kita lihat apa yang bakal kamu lakukan besok,”
“We are the champion my friend, and we’ll keep on fighting to the end...............” suara Alenia bergema di seantero kamar. Dengan gaya yang sok asik, Alenia bernyanyi bak Diva international dengan dandanan yang tidak karuan.


Kaos Hello kity favorit, celana tidur kotak-kotak, dan dasi yang dililit di kepala. Kamarnya pun terlihat masih berantakan. Sejak sore ia memang tidak berniat keluar dari kamar dan malah membongkar seisi kamar hanya untuk mencari syal birunya
yang sejak sebulan lalu tidak ia temukan, hingga akhirnya ia berhasil menemukannya di bawah tumpukan buku-bukunya.


“Alenia...” panggil sang mama sambil menggedor pintu kamar. Namun karena kerasnya suara di dalam kamar, Alenia tidak mendengar panggilan mamanya.
“Aleniaaaa...........” teriak mamanya lebih keras hingga akhirnya Alenia tersadar dan mengecilkan volume audio playernya.
“Ada apa sih Ma?” tanya Alenia melongokkan kepala dari balik pintu.

“Kamu gak mau makan malam?” tanya mamanya.
“Ehm.. gak deh, masih kenyang. Ntar kalo Alenia lapar, Alenia ambil sendiri,” balas Alenia sambil menutup pintunya namun dicegah oleh mama, “Eh...”
“Apaan lagi sih Ma?”
“Ini..” mama menunjukkan rok Alenia yang robek siang tadi,
“Kenapa ini?”


Alenia tersenyum semanis mungkin pada sang mama. Langsung saja mama tahu kalau Alenia pasti berbuat ulah yang aneh lagi.
“Ini kenapa?” tanya mama ingin tahu.
“Robek, hehehe..” jawab Alenia sambil tertawa cengengesan.
“Ya, tapi kenapa bisa robek Alenia?”


“Hehe..Itu, tadi Alenia dikejar anjing Ma, iya. Jadi Alenia naik ke atas pohon terus roknya robek,”. Mama hanya geleng –geleng kepala mendengar penjelasan Alenia. Anak perempuan semata wayangnya yang satu itu memang tidak ada habisnya. Sejak
kecil, ada saja ulah yang dilakukan Alenia.


Memang masih dalam batas kewajaran. Namun tetap saja membuat mama
dan papanya tidak berdaya dengan segala ulahnya. Mamanya hanya bisa pasrah dan berdoa agar putrinya itu bisa menjadi anak perempuan yang benar-benar perempuan tanpa embel- embel aneh di belakangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar